Rabu, 07 Desember 2022

Capaian Pembelajaran

KURIKULUM MERDEKA 

6"Capaian Pembelajaran"(Modul : Pembelajaran dengan Paradigma Baru )

 Capaian Pembelajaran


Salam dan Bahagia Ibu dan Bapak Guru!

Selamat datang kembali pada topik Kurikulum. 

Untuk lebih memahami bagaimana prinsip dan gambaran Kurikulum Prototipe,pada materi kali ini kita akan belajar mengenai capaian pembelajaran.


Capaian pembelajaran (CP) merupakan kompetensi dan karakter yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.

Capaian pembelajaran setara dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada Kurikulum 2013.


Kurikulum Prototipe mengusung konsep Merdeka Belajar sehingga, capaian pembelajaran pun disusun dengan

"Memperhatikan tahapan-tahapan perkembangan murid sesuai usianya."

Capaian pembelajaran dirancang berdasarkan fase, bukanlah per tahun.Satu fase memiliki rentang satu sampai tiga tahun.


Dengan begitu, rentang waktu untuk murid mencapai penguasaan kompetensi lebih lama.

"Murid dan Guru punya waktu yang lebih leluasa untuk mengembangkan kompetensi dan memperdalam pemahaman."


Pada Kurikulum prototipe capaian pembelajaran dibagi 6 fase yaitu:

 1. Fase A ( I -II SD )

 2. Fase B ( III-IV )

 3. Fase C ( V-VI SD )

 4. Fase D ( VII-IX SMP )

 5. Fase E ( X SMA )

 6. Fase F ( XI-XI )

 

Fase A untuk kelas 1-2 SD, Fase B untuk kelas 3-4 SD, Fase C untuk kelas 5-6 SD. Pada jenjang SMP, murid akan berada pada Fase D. Jejak SMA terbagi menjadi 2 Fase,, yaitu Fase E untuk kelas X dan Fase F untuk kelas XI dan XII.

PAUD menjadi Fase fondasi untuk  mempersiapkan murid memasuki Fase A.


Capaian pembelajaran setiap fase memuat kompetensi murid yang ingin dicapai di akhir fase tersebut.

Misalnya:

Capaian pembelajaran fase A akan berakhir pada kelas 2 SD. Sehingga 

"Murid memiliki waktu dua tahun untuk menguasai kompetensi yang ada dalam capaian pembelajaran di fase A."


Capaian pembelajaran memuat dua hal utama: (1) Kompetensi Inti, (2) Konten esensial.


Pertimbangannya, ketika kurikulum memuat konten isi yang terlalu rinci, proses pembelajaran berpotensi menjadi terlalu padat. 

Akibatnya, pelajaran disampaikan secara terburu-buru untuk menyelesaikan konten isi yang terperinci tersebut.

Jadinya Guru cenderung berfokus pada ketersampaian konten isi dibanding pencapaian kompetensi murid.


Dengan terbatasnya waktu, proses belajar menjadi seragam dan kurang memperhatikan kebutuhan dan karakteristik murid.

Pembelajaran pun menjadi tidak mendalam dan terkesan mengejar penuntasan konten.


Pada Kurikulum Prototipe, Capaian Pembelajaran hanya memuat kompetensi inti dan konten esensial, dengan tujuan:

"Mendorong proses pembelajaran yang mendalam pada murid."


Jadi, penyederhanaan ini bukan berarti standar capaian yang ditetapkan menjadi lebih rendah.


Dengan mengacu pada kompetensi dan konten esensial, Guru memiliki ruang untuk mengembangkan kompetensi setiap anak, walaupun kompetensi awal mereka berbeda-beda.

Pembelajaran pun menjadi tidak seragam, karena berfokus pada pengembangan kompetensi, bukan penuntasan konten.

"Seberapa dalam konten isi yang akan disampaikan, dapat disesuaikan dengan kompetensi awal murid."

Capaian Pembelajaran disusun sesuai dengan tahapan perkembangan murid.
Kita ambil 

Contoh:

-Capaian pembelajaran dalam mata pelajaran matematika.

-Dalam matematika, terdapat elemen konten isi dan kecakapan matematika sebagai sebuah kesatuan.

-Elemen konten isi dan kecakapan inilah yang akan menjadi dasar pengembangan kompetensi pada setiap fase.

-Kita lihat contoh pada elemen geometri mengenai bangun datar.

-Di akhir fase A, kompetensi murid berada pada kemampuan untuk mempresentasikan apa yang dilihatnya melalui kata-kata jika dikaitkan dengan konten isi maka murid mengenal dan mendeskripsikan berbagai bentuk bangun datar.

-Pada akhir fase B kompetensi murid meningkat, pada kemampuan untuk membandingkan, namun pada hal-hal yang masih konkrit, seperti membandingkan ciri-ciri berbagai bentuk bangun datar.

-Dan pada akhir jenjang SD, yaitu fase C, kompetensi murid naik dari membandingkan menjadi mengklasifikasikan, namun tetap untuk hal-hal yang konkrit. Jika dikaitkan dengan konten isi, maka murid dapat mengklasifikasikan berbagai bentuk bangun datar sesuai dengan ciri-cirinya.

-Naik ke jenjang SMP, kompetensi murid pada fase D meningkat ke konsep abstrak dan pembuktian.Seperti memutihkan teorema Pythagoras dengan berbagai cara.

-Pada awal jenjang SMA yaitu fase E, kompetensi murid meningkat ke kemampuan memecahkan persoalan yang abstrak. jika dikaitkan dengan konten isi maka Murid memiliki kompetensi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan segitiga siku-siku.

-Dan di akhir jenjang SMA yaitu fase F, kompetensi mengarahkan ke tahap. Penerapan untuk konsep yang abstrak. Seperti menerapkan Teorema tentang Lingkaran.


Tahapan pembelajaran ini disesuaikan dengan empat tahapan perkembangan kognitif anak menurut teori Piaget.

Menurutnya, 

Pada usia 0-2 tahun, bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia. Melalui pengalaman melihat, mendengar, menggapai, juga menyentuh.

Ketika masuk pada usia 2-7 tahun, anak mulai mempresentasikan dunianya dengan kata dan gambar. Mereka mulai menggunakan bahasa serta gambar atau simbol untuk menggambarkan suatu konsep yang konkrit.

Di usia 7 hingga 11 tahun anak mulai dapat berpikir secara logis yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah yang konkrit. Anak pun memiliki kemampuan untuk mengurutkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis.

Dan ketika masuk usia 11 tahun keatas anak sudah bisa berpikir secara abstrak lebih logis, sehingga memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih abstrak dan menarik kesimpulan. Dari ragam informasi dan pengalaman.

Jadi,setiap fase memiliki tingkatan kompetensi yang bertahap, dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan murid.

Selain menggunakan teori Piaget, konsep dasar penyusunan Capaian Pembelajaran juga menggunakan teori belajar konstruktivisme.

Yaitu teori yang memandang bahwa belajar merupakan proses membangun pengetahuan baru dan dilakukan sendiri oleh murid.Pengetahuan baru ini dibangun dari kemampuan awal, pengalaman belajar, dan interaksi sosial yang dimiliki murid.

Konsep ini mengarahkan murid untuk aktif menemukan pengetahuannya sendiri, berdasarkan kematangan kognitifnya.

Tentunya setiap Murid memiliki kemampuan awal dan pengalaman yang beragam.Sehingga hasilnya, setiap murid di kelas pun akan membangun pemahamannya masing-masing secara unik.


Tujuan dari pendekatan konstruktivisme adalah "untuk membangun pemahaman dengan menciptakan sebuah karya dimana dalam menciptakan sebuah karya tersebut, murid perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan"

Seperti yang kita ketahui, kemampuan menciptakan ada di puncak Taksonomi Bloom. Ketika murid mampu menciptakan sebuah karya, 

Misalnya: 
-Membuat denah rumahnya, artinya murid sudah memahami dan menguasai kompetensi yang diharapkan.

- Memahami cara mengukur ruangan, menghitung skala, dan sebagainya.


Maka jika mengacu kepada teori konstruktivisme. Sebenarnya kemampuan memahami ada di level paling tinggi, berbeda dengan belum yang berada di level C2.

Jadi saat Ibu Bapak membaca kompetensi dalam capaian pembelajaran, 

Ingat bahwa kompetensi di sini dalam capaian pembelajaran memakai pendekatan konstruktivisme, bukan taksonomi Bloom.


Ibu dan Bapak Guru, sebelum kita akhiri materi ini, mari kita kembali mengingat, bahwa:

"Capaian pembelajaran berfokus pada kompetensi inti dan konten esensial yang ingin dicapai."


Capaian pembelajaran dibagi dalam fase :

1. Memberikan rentang waktu yang lebih leluasa kepada murid untuk menguasai kompetensi

2.Memberikan waktu yang lebih fleksibel kepada guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid.



Dengan menggunakan CP sebagai acuan utama, Ibu dan Bapak Guru memiliki ruang yang cukup luas, untuk memfasilitasi pembelajaran yang mendalam dan bermakna kepada muridnya.

Dengan demikian murid dan guru terdorong untuk menjadi pembelajaran sepanjang hayat.


Selamat belajar dan berproses ibu dan bapak guru hebat!


Salam dan bahagia


Capaian pembelajaran menggunakan teori belajar konstruktivisme, yaitu memandang bahwa belajar merupakan proses membangun pengetahuan baru dan dilakukan sendiri oleh murid.


Capaian Pembelajaran

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, Capaian Pembelajaran menjadi acuan kompetensi dan kriteria yang ingin dicapai dalam sebuah mata pelajaran. Video ini bercerita tentang bagaimana konsep Capaian Pembelajaran, sekaligus hubungannya dengan teori piaget dan teori konstruktivisme.


Referensi:

1. Pusat Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. 2020. Naskah Akademik Program Sekolah Penggerak. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan teknologi

2. Salinan Keputusan Kepala Badan Penelitan dan Pengembangan dan Perbukuan Nomor 028/H/KU/2021 tentang Capaian Pembelajaran PAUD, SD, SMP, SMA, SDLB, SMPLB, dan SMALB pada Program Sekolah Penggerak

3. Salinan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 162/M/2021 tentang Sekolah Penggerak

4. https://www.getsmarter.com/blog/research-hub/unpacking-blooms-taxonomy-part-1/ diunduh pada tanggal 10 September 2021.

  
(Sumber Video Pelatihan Mandiri di PMM)

Selasa, 06 Desember 2022

Prinsip Umum Pembelajaran

Kurikulum Merdeka

 5. Prinsip Umum Pembelajaran


Salam dan Bahagia Ibu dan Bapak Guru!

Di modul sebelumnya kita sudah menyegarkan kembali pemahaman kita tentang" Kurikulum".

Nah,sekarang kita sampai pada materi pertama di 

"Modul Pembelajaran Paradigma Baru yaitu Materi Prinsip Umum Pembelajaran"

Tujuannya, agar kita mampu memahami konsep dan prinsip pembelajaran yang berpihak pada murid.


Pembelajaran merupakan implementasi kurikulum di kelas. Sebagai pelaksanaan kurikulum,Guru merancang dan melaksanakan

 "Pembelajaran, dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dapat memfasilitasi beragam kebutuhan murid."

Apa saja prinsip pembelajaran yang berpihak kepada murid ?

Yuk,kita pelajari bersama.

Ada 5 prinsip pembelajaran dengan paradigma baru yang dapat diperankan oleh satuan pendidikan dan guru, untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas

Pertama,

Mempertimbangkan kebutuhan capaian belajar murid saat ini.

Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan capaian setiap murid yaitu,kebutuhan belajar dan perkembangannya.

Harapannya:

"Perbedaan kompetensi dan potensi setiap murid dapat difasilitasi"

Sehingga murid mendapatkan hak belajarnya dengan baik.

Untuk memahami kebutuhan dan kemampuan murid, Guru dapat melakukan evaluasi.sebelum proses pembelajaran.

Salah satunya adalah asesmen diagnostik.Dari hasil asesmen diagnostik.

-Guru memahami kebutuhan setiap murid

-Kemudian Guru memutuskan menggunakan pendekatan pembelajaran terdiferensiasi.

Untuk mengakomudir kebutuhan murid yang beragam.


Kedua,

Membangun kapasitas belajar murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Murid mempunyai fisik, mental dan pikiran yang akan terus tumbuh dan berkembang. 

Oleh sebab itu diperlukan pembelajaran yang mengembangkan, pola pikir tumbuh"growts mindset ".

Murid mengetahui apa yang dipelajari, mengelola tantangan dan melakukan refleksi atas pengalaman belajarnya.

Dalam konteks kelas Misalnya:

-Guru melibatkan murid dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran dengan membuka dialog dengan murid.

-Guru membantu murid menemukan dan menumbuhkan motivasi internal serta kepercayaan dirinya, untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat..


Ketiga

Mendukung perkembangan kognitif dan karakter murid.

Keseimbangan kognitif dan sosial emosional menjadi penting bagi murid untuk menemukan budi pekerti. 

Maka,diperlukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, yang mempertimbangkan perkembangan karakter dan kompetensi murid.

Contohnya:

-Guru mengembangkan kecakapan berpikir murid dengan penguatan literasi melalui teks.

-Guru menumbuhkan kecakapan sosial- emosional murid dengan mengapresiasi proses belajar, berempati, bekerjasama, dan sikap saling membantu antar murid.



Keempat

Menyesuaikan konteks kehidupan murid. 

Murid tumbuh dan berkembang berdasarkan konteks kebudayaan di sekitarnya. 

Oleh karenanya, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan konteks kebudayaan dan kehidupan dimana murid berada.

Dan ini selaras dengan fungsi satuan pendidikan yang salah satunya adalah untuk memelihara warisan budaya yang hidup di masyarakat.

Sebagai contoh:

-Guru membantu murid mengenal konteks diri dan lingkungannya. 

-Murid berpartisipasi dalam kegiatan adat/budaya sebagai proses belajar murid. 

-Guru menghubungkan murid dengan sumber belajar di sekitarnya. Misalnya komunitas sebagai mitra belajar.



Kelima

Mengarah pada masa depan yang berkelanjutan. 

Murid merupakan generasi penerus masa depan yang akan menjaga dan mengisi keberlanjutan kehidupan.

Isu-isu dan tantangan seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM dan lain-lain, dapat menjadi konten/materi yang mendorong Murid memiliki beberapa kompetensi, untuk turut berkontribusi menghadapi isu dan tantangan tersebut.

Maka, penting bagi guru untuk membangun kesadaran murid pada masa depan yang berkelanjutan.

Misalnya:

-Guru membantu murid menemukan pemahaman bermakna dan relevan bagi dirinya saat ini dan untuk masa depannya.



Ibu dan Bapak Guru, ke lima prinsip tersebut muncul sebagai respon atas perubahan yang terjadi begitu cepat di dunia, dan fakta keberagaman yang kita miliki.

Dengan 5 prinsip pembelajaran paradigma baru tersebut, guru dan satuan pendidikan diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung beragamnya kebutuhan, bakat, minat dan potensi murid.

Ibu dan bapak guru, setelah memahami prinsip pembelajaran yang memihak kepada murid,

Apa yang selanjutnya kita dapat lakukan untuk mendampingi proses belajar murid ?

Sampai jumpa di materi berikutnya.


Selamat Belajar ibu dan Bapak Guru hebat! 


Salam dan Bahagia!


"Dengan 5 prinsip pembelajaran paradigma baru tersebut guru dan satuan pendidikan diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung beragamnya kebutuhan bakat minat dan potensi murid."


Referensi:

1. Pusat Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. 2020. Naskah Akademik Program Sekolah Penggerak. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi



(Sumber Video Pelatihan Mandiri di PMM)

Kurikulum dalam Pembelajaran

 4. Kurikulum dalam Pembelajaran

Salam dan Bahagia Ibu Bapak Guru

Selamat datang kembali di modul kurikulum. Kali ini kita akan belajar tentang "Kurikulum dalam Pembelajaran"

Pada materi sebelumnya kita sudah belajar bahwa kurikulum dapat berubah dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi satuan pendidikan.

Bagaimana dengan implementasi pengembangan kurikulum di satuan pendidikan ?




Ilustrasi Dialog  Guru 

Bu Yuli:Pak, saya punya usul,bagaimana   jika rapat menjelang tahun ajaran baru, kita sekalian membahas evaluasi pelaksanaan kurikulum Operasional Sekolah Kita.

Pak Bambang: Memangnya ada apa dengan kurikulum sekolah kita.Ada yang salah ?

Bu Yuli: Tidak, maksud saya,setiap satuan pendidikan sudah diberi kewenangan oleh pemerintah untuk mengembangkan kurikulum operasionalnya.Itu berarti, "Kurikulum sifatnya dinamis yang artinya kurikulum dapat mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan sekolah(satuan pendidikan)".Maka seharusnya secara berkala kita evaluasi.

Pak Bambang:Hmmmmm Begitu ya.

Bu Yuli:Iya Pak, sebab pengembangan ini berpengaruh sekali akan arah sekolah kita ke depannya.

Pak Bambang: Betul juga ya,Bu. sepertinya sudah waktunya kita mengevaluasi kurikulum operasional ini.

Ibu Yuli: benar Pak. 

Pak Bambang:Baik kalau begitu,kita coba untuk agendakan kegiatan ini.

Coba kita catat,komponen yang akan dibahas dalam rapat Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan.

Satu,Visi.ini sebagai tujuan jangka panjang sekolah dan nilai-nilai yang mendasari pembelajaran agar murid mencapai profil pelajar pancasila,ya.

Dua.Misi.Sebagai cara sekolah dalam mencapai tujuan.Apalagi ya,Bu?

Bu Yuli:  Tujuan sekolah juga Pak. Kita evaluasi Tujuan akhir dari kurikulum sekolah.

Pak Bambang: Baik. Saya sudah catat. Kalau hal tadi berhubungan dengan rencana jangka panjang sekolah.Lalu, bagaimana dengan komponen yang berhubungan dengan rencana jangka pendeknya,Bu ?

Seperti rencana pembelajaran. Apakah itu termasuk yang harus kita evaluasi juga ?

Bu Yuli:Oh iya betul Pak.Kurikulum operasional satuan pendidikan ini juga termasuk rencana pembelajaran. karena

" Setiap sekolah mempunyai kewenangan untuk mengatur alur tujuan pembelajaran, modul belajar, media ajar sampai ke asesmennya"

Kita diskusikan selama satu tahun ajaran ke depan.Perencanaan dan alur pembelajarannya mau seperti apa?juga program prioritas satuan pendidikan kita ya,Pak.

Pak Bambang: Kalau begitu selain perencanaannya,pengorganisasian pembelajaran juga dievaluasi juga ya?

Bu Yuli: Betul Pak. Kita evaluasi kembali 

"Muatan kurikulum sekolah sesuai dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan anak."

Termasuk beban belajar murid kalau gitu,ya. Nanti kita lihat kembali Capaian Pembelajaran per fase dan juga Profil Pelajar Pancasila.

Untuk menyelaraskan kurikulum kita dengan yang sudah dibuat oleh pemerintah .

Pak Bambang: Siap.Eh Bu, ngomong -ngomong muatan kurikulum, berarti sesuai struktur pembelajaran 
dalam paradigma baru,ya.

Kita akan evaluasi program intrakurikuler sekolah,yaitu yang berisikan muatan pada pelajaran dan muatan lokal.Lalu,kita akan evaluasi program projek .

Catatan Penting:

Program Intrakurikuler Sekolah 

Pada PAUD, projek disatukan dalam kegiatan pembelajaran

Untuk SMK terdapat tema khusus Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,kebekerjaan dan Budaya.

Ingat tidak Bu?

Ini merupakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,dan juga program ekstrakurikuler.

Untuk ekstrakurikuler,bagaimana kalau sebelum rapat nanti, kita adakan survei kepada murid-murid ?

Catatan Khusus 
{"Program Ekstrakurikuler Sekolah
Untuk SMK,mata pelajaran dan atau konsentrasi di susun oleh satuan pendidikan bersama dunia kerja.}

{Praktik Kerja Lapangan (PKL): menyiapkan murid agar memiliki pengalaman dan kompetensi di dunia kerja."}


Kita bisa melibatkan murid dalam menentukan jenis ekstrakurikuler yang dapat kita tawarkan.Jadi kita bisa tahu apa yang sedang mereka gemari.


Bu Yuli:Wah,ide bagus Pak.Nanti kita juga dapat bekerja sama dengan alumni sebagai pelatih,narasumber atau mungkin dapat memberikan pelatihan keguru-guru,supaya kita juga punya bekal dalam membimbing di ekstrakurikuler itu.

Pak Bambang: Wah.... Siap Bu. Saya coba catatan juga ya.....Apa bisa ya Bu, kita punya ekstrakurikuler belajar menjadi wirausahawan?

Fokusnya membuat dan memasarkan makanan khas kota kita.

Bu Yuli:sangat mungkin, Pak. Itulah pentingnya pengembangan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan.

"Dalam Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan kita dapat menyesuaikan rencana dan pengorganisasian pembelajaran sesuai dengan keadaan konseptual satuan pendidikan, sehingga pembelajaran murid lebih bermakna."

Pak Bambang: Menarik banget,Bu.Berarti sistem pendampingan, evaluasi,dan pengembangan profesional sekolah juga harus kita diskusikan.

Nah, jika program sudah bagus maka sistem monitoring dan pengembangan profesi guru juga harus didukung.

Bu Yuli: Betul,Pak.Kalau begitu sebelum kita meeting, saya akan sampaikan ke Kepala Sekolah untuk segera melakukan monitoring secara internal dan bertahap sesuai dengan kemampuan sekolah kita.

Coba Pak saya lihat catatannya, jadi tadi

Komponen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan adalah :

1.Karakteristik Satuan Pendidikan
2. Visi,Misi dan Tujuan ujuan 
3. Perencanaan Pembelajaran yang mencakup: Alur Tujuan Pembelajaran, Asesmen, Modul Ajar, Media Ajar,juga Program Prioritas Satuan Pendidikan 
4. Pengorganisasian Pembelajaran, mencakup: Muatan Kurikulum, Beban Belajar, Program Intrakurikuler, Ekstrakurikuler,dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
5. Sistem Pendampingan, Evaluasi,dan Pengembangan Profesional 

Oiya,satu lagi Pak, sebelum ini semua.
Mari kita coba lihat dan evaluasi kembali karakteristik satuan pendidikan.Agar kita dapat menganalisis konteks sekolah, melihat kebutuhan zaman dan perubahan yang terjadi.

Dengan demikian, kita mengetahui apa yang unik dari sekolah kita. Baik itu dari segi murid, sosial, budaya guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Ini adalah modal dasar evaluasi visi, misi dan tujuan.

Pak Bambang:Baik saya tambahkan di nomor satu ya Bu karakteristik satuan pendidikan. Sebagai moderator kegiatan rapat nanti. Saya akan ingatkan Kembali prinsip pengembangan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan.
  
 5 Prinsip Pengembangan KOSP
  - Berpusat pada murid
  - Kontekstual
  - Esensial
  - Akuntabel
  - Melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Oke,ada 5 prinsip.

Bu Yuli: Siap,senang sekali, Pak.Kita jadi bisa membuat kurikulum yang sesuai dengan konteks sekolah kita.Sebenarnya ini jadi memudahkan kita dalam pelaksanaan, ya..

Kita dapat menentukan metode, modul ajar dan asesmen. Terlebih lagi, sumber belajar bukan hanya dari buku teks namun kita juga dapat menggunakan media yang lain.

Sekolah mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah sesuai dengan konteks sekolah.Wah jadi lebih membuat kita jadi bersemangat ya?




..........................................................




Ibu dan Bapak Guru, semoga dialog tersebut menginspirasi kita semua.

"Kemendikbud ristek sudah menyiapkan contoh Kurikulum Operasional , tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengembangkannya"


Silakan Ibu dan Bapak kembangkan sesuai dengan konteks satuan pendidikan masing-masing.

"Dokumen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan sangat dinamis mengikuti perubahan dan kebutuhan,
Dokumen ini dapat diperbaharui secara berkesinambungan" 

Menjadi referensi dalam keseharian, direfleksikan dan terus dikembangkan.

Bagaimana Ibu dan Bapak Guru?
Sudah siap menyusun dan mengembangkan Kurikulum dalam Pembelajaran ?


Selamat Belajar, Ibu dan Bapak Guru hebat! Salam dan Bahagia

"Dokumen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan merupakan dokumen yang dinamis mengikuti perubahan dan kebutuhan satuan pendidikan"


Referensi:

1. OECD. 2020. Curriculum (re) design from the OECD Education 2030 project. Overview brochure

2. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. 2021. Panduan Pengembangan Kurikulum operasional di Satuan Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

3. Pusat Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. 2020. Naskah Akademik Program Sekolah Penggerak. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan teknologi



(Sumber Video Pelatihan Mandiri di PMM)


Mengapa Kurikulum Perlu Diadaptasi?

Kurikulum Merdeka

3.Mengapa Kurikulum Perlu Diadaptasi?
 
Salam dan Bahagia Ibu dan Bapak Guru

Pada materi yang lalu, kita telah mengetahui penyebab dibalik perubahan kurikulum.

Lantas, bagaimana kurikulum ini bisa terhubung dengan pembelajaran di kelas ?

Konteks satuan pendidikan yang beragam membuat banyak hal tidak mudah diimplementasikan di kelas.

Itulah sebabnya, kurikulum yang ditetapkan secara nasional perlu diadaptasi di tingkat satuan pendidikan.

Kali ini,kita akan belajar bersama tentang mengapa kita perlu melakukan adaptasi terhadap kurikulum.


Ibu dan Bapak Guru, mari kita lihat lingkungan di sekitar sekolah. 

Di mana sekolah kita berada ?
Apakah di tepi pantai?
Apakah di tengah-tengah perkebunan?
Apakah di tengah perkotaan yang padat penduduknya ?

Setahun belakangan,perubahan apa saja yang terjadi di sekitar sekolah?

Apakah ada bangunan yang baru didirikan ?
Apakah ada hal-hal yang mengubah kehidupan guru dan murid di sekolah?

Keadaan sekolah dan sekitar kita memang berbeda-beda.Murid kita pun berbeda-beda.

Bisa jadi,pembelajaran yang paling berhasil untuk masing-masing murid juga tidak sama.

Ada perbedaan lingkungan dan ekosistem sekolah.Perubahan  juga terus terjadi di sekitar kita.

Hal-hal itulah yang menjadi alasan mengapa kurikulum dari pemerintah pusat harus melalui proses adaptasi terlebih dahulu.

Bentuk adaptasi kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan murid-murid di sekolah.

ini bisa diterjemahkan dalam Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan.Agar memudahkan,kita singkat saja KOSP.

Ibu dan Bapak Guru, yuk kita simak cerita berikut ini :


Ilustrasi Cerita

Pak Cikhan adalah Kepala sekolah SDN Gunung 01.Sekolahnya terletak di tengah perkebunan kopi di kaki gunung.

Selama ini,beliau belum memahami pentingnya mengadaptasi kurikulum.
Biasanya, beliau dan rekan-rekan guru hanya mengajar sesuai dengan apa yang ada di buku teks.

Suatu ketika,Pak Cikhan melihat rekan gurunya mengajar IPAS tentang ekosistem.Guru tersebut menggunakan contoh dalam buku teks untuk menjelaskan tentang ekosistem.
Ia menggunakan hewan-hewan yang ada di laut melalui gambar-gambar dalam buku.

Pak Cikhan kemudian berpikir tentang letak sekolah di tengah perkebunan. Beliau mendengar suara jangkrik dan cuitan burung.Beliau juga ingat bahwa murid-muridnya sering melihat ular saat ikut orang tuanya di kebun.

Beliau berpikir,hewan-hewan tersebut bisa digunakan untuk menjelaskan tentang ekosistem dengan lebih baik

Mengapa ?

Karena hewan-hewan tersebut biasa ditemui oleh murid-muridnya.Lalu, beberapa hal lain terlintas dalam pikiran Pak Cikhan.

Bagaimana jika para guru mengajar IPAS dengan menggunakan contoh hewan yang ada di sekitar sekolah?

Murid-murid pasti lebih tertarik.Karena, mereka akan lebih mudah membayangkan apa yang sedang dipelajari.Tujuannya tentu saja untuk membantu murid mendapat pembelajaran yang lebih bermakna.

Kemudian, Pak Cikhan mencari materi yang pernah diberikan oleh salah seorang temannya.Materi tersebut membahas tentang bagaimana memanfaatkan lingkungan sekitar Dalam proses pembelajaran.

Beliau menyadari bahwa cara mengajar yang hanya bertumpu pada buku teks sangat tidak cukup.Bisa jadi,hal tersebut membuat siswa kurang dapat menghubungkan apa yang dipelajari, dengan kehidupan mereka.

Beliau ingat tentang KTSP yang mengharuskan satuan pendidikan untuk membuat kurikulum.Beliau berpikir,"Wah! jangan-jangan sudah saatnya kita mengembangkan kurikulum yang berbasis sekolah."

Pak Cikhan,kemudian mendiskusikan hal ini dengan teman-teman guru di sekolah. Beliau menyampaikan tentang gagasan untuk membangun kurikulum berbasis sekolah.Salah satu gurunya kemudian nyeletuk, "Iya,Pak !saya dengar-dengar sekarang sekolah itu harus membuat KOSP,Pak!"

Setelah itu,seluruh pemangku kepentingan SDN Gunung 01 mulai membicarakan pengembangan KOSP.

Bersama-sama,mereka memahami secara utuh kerangka dasar kurikulum yang sudah ditetapkan.

Kerangka Dasar Kurikulum 
 -Tujuan Pendidikan Nasional 
 -Profil Pelajar Pancasila 
 -Struktur kurikulum 
 -Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
 -Capaian Pembelajaran

Mereka juga Mulai menganalisa kebutuhan murid-murid dan kondisi sekolah.Pak Cikhan juga mengintegrasikan Visi sekolah ke dalam KOSP.

Visi Sekolahnya :
Melahirkan murid-murid yang cerdas, berakhlak, bertanggung jawab, dan peduli akan lingkungan.

Pak Cikhan semakin yakin.
Seandainya pelajaran IPAS menggunakan pembelajaran yang telah disesuaikan,pasti akan memberikan pemahaman yang lebih bermakna bagi para murid.

Misalnya, dalam pelajaran IPAS mengenai ekosistem.

Pak Cikhan dan rekan guru akan meminta murid melakukan observasi langsung terhadap hewan yang ada di sekitarnya.

Murid-murid juga akan diajarkan tentang bagaimana kaitan kehidupan sehari-hari dengan kelangsungan ekosistem yang harus terus dijaga.


................................................................



Nah Bapak Ibu Guru yang hebat!
Apa yang dilakukan Pak Cikhan dan rekan-rekan gurunya di sekolah. Adalah 'Melakukan adaptasi kurikulum".

Caranya adalah dengan merancang KOSP.

Bisa jadi penerjemahan kurikulum tidak hanya dipengaruhi faktor geografis tapi juga faktor budaya dan sosiologis.

Kurikulum operasional untuk murid-murid di daerah pertanian berbeda dengan kurikulum operasional di daerah pariwisata.

KOSP adalah dokumen hidup. Sehingga KOSP dapat disesuaikan dengan kebutuhan murid.

Tentunya, setelah proses refleksi sudah dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan.

Ibu dan bapak guru, ternyata dokumen kurikulum sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Bahkan, kita bisa turut mengembangkan dan menyesuaikannya demi mencapai tujuan pendidikan.

Kita juga bisa memenuhi kebutuhan murid-murid yang memiliki keunikannya masing-masing.

Keanekaragaman latar belakang dan kemampuan murid adalah tolak ukur adaptasi KOSP.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap saat murid akan berkembang sesuai dengan zamannya.

Mari kita mulai dengan bersemangat untuk terus belajar.

Salam dan Bahagia, Ibu dan Bapak Guru !

"Keanekaragaman latar belakang dan kemampuan murid merupakan tolak ukur adaptasi Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan, guna memastikan setiap saat murid akan berkembang sesuai dengan zamannya".



Referensi:

1. OECD. 2020. Curriculum (re) design from the OECD Education 2030 project. Overview brochure

2. Pusat Asesmen dan Pembelajaran. 2021. Paparan Pembelajaran Paradgima Baru. Jakarta: Kementerian Pendidikan,, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.


(Sumber Video Pelatihan Mandiri di PMM)

Mengapa Kurikulum Perlu Diubah

2.Mengapa Kurikulum Perlu Diubah

Salam dan bahagia Ibu dan Bapak Guru,pada materi sebelumnya,kita telah mempelajari bahwa kurikulum merupakan pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pada Materi ini, kita akan melanjutkan pembahasan pentingnya perubahan kurikulum untuk menyesuaikan dengan kebutuhan murid dan perkembangan zaman.

Saat ini berbagai isu baru menuntut satuan pendidikan menyiapkan kurikulum yang membantu murid untuk menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan.

Isu Kekinian :
  - Perubahan Iklim Global
  - Teknologi Digital
  - Industri Multinasional
  - Transformasi Budaya 

Dari materi sebelumnya,kita mempelajari bahwa "Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan zamannya"

Kurikulum bersifat dinamis dan terus dikembangkan atau diadaptasi sesuai konteks dan karakteristik murid, demi membangun kompetensi sesuai kebutuhan mereka:kini dan masa depan.

Ibu dan Bapak Guru, mari kita ingat masa-masa sekolah kita waktu itu.

Apakah Ibu dan Bapak Guru menyukai saat-saat mengerjakan tugas sambil mencari referensi buku di perpustakaan ?

Atau adakah Ibu dan Bapak Guru yang dulu menggunakan disket untuk menghubungkan tugas?Wah ternyata sudah lama ya masa-masa kita menjadi murid.

Kini murid kita tidak hanya memiliki buku-buku perpustakaan sebagai bahan referensi. Berbagi materi bacaan dapat mereka jangkau melalui internet.Termasuk referensi dari perpustakaan-perpustakaan terbaik di dunia.Betapa zaman sungguh berubah ya,Ibu dan Bapak Guru.

Ketika kita menjadi murid,mungkin cita-cita kita hanya menjadi dokter, polisi,tentara atau tentu saja jadi guru.

Namun kini,pilihan cita-cita murid kita lebih beragama dan mungkin sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Mereka kini ingin menjadi ilustrator animasi karakter kartun,menemukan software komputer,pengembang atau bahkan aplikasi gamer atau Youtuber.

Perubahan-perubahan tersebut hanyalah sebagian contoh yang tentu membuat kita sadar:dunia ini ternyata memang terus berubah.

jika mengingat kata-kata Ki Hajar Dewantara pada modul Merdeka Belajar.

Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia,maupun sebagai anggota masyarakat.

Maka demi Menuntun kodrat murid-murid kita, pembelajaran, termasuk kurikulum yang kita selenggarakan juga harus terus menyesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Sebagai Guru, kita harus belajar terus untuk mengikuti dan memahami 
trend kehidupan murid kita yang tergolong generasi Z dan Alpha.

Berbagai penelitian menyampaikan bahwa mereka sulit dipisahkan dengan media sosial.Keadaan ini bisa dimanfaatkan oleh guru untuk tujuan pembelajaran.

Misalnya:dengan meminta murid membuat dan mengumpulkan tugas Melalui aplikasi digital.

Ibu dan Bapak Guru,ada pepatah  yang mengatakan 

"It takes a village to raise a child"

"butuh seluruh desa untuk membesarkan seorang anak"

Bagaimana Ibu dan Bapak Guru memaknai pepatah tersebut pepatah tersebut?

Pepatah ini menyiratkan perlunya peran orang tua,masyarakat, dan sekolah dalam mewujudkan kurikulum yang berpihak kepada murid.

Mereka lah yang disebut sebagai tiga pilar pendidikan.Oleh sebab itu,ketika kita merancang kurikulum,kita harus menempatkan 
-Kebutuhan,
-Pendapat, 
-Pengalaman,
-Hasil belajar serta 
-Kepentingan murid

Sebagai rujukan utama.Sejatinya kurikulum dirancang untuk murid.

Agar dapat mewujudkan seluruh kompetensi yang diharapkan dari kurikulum, semua pihak harus berkolaborasi maksimal.

Misalnya:
a).Guru terus belajar memfasilitasi pembelajaran yang sesuai.

b).Orang tua terus memahami perkembangan dan kebutuhan murid.

c).Begitu juga dengan pemerintah daerah dan pusat,

d).Serta semua yang bergerak di bidang pendidikan juga harus terus mengikuti perkembangan kebutuhan murid.

Menurut Ibu dan Bapak Guru, bagaimana perubahan kurikulum membantu kita mencapai tujuan pendidikan ?

Bagaimana cara kita sebagai pendidik terus berkembang bersama-sama murid kita, dengan menggunakan kurikulum sebagai pusat dari pengembangan pembelajaran.

Mari kita tetap bersemangat menghadapi dan menjadi bagian dari perubahan ke arah yang selalu lebih baik.

Salam dan Bahagia Ibu dan Bapak Guru hebat !


"It Takes a Village to Raise a Child"
"Butuh Seluruh Desa untuk Membesarkan Seorang Anak"

Semua pihak harus menempatkan kebutuhan, pendapat, pengalaman, hasil belajar, serta kepentingan murid sebagai rujukan pengembangan kurikulum titik sejatinya, kurikulum dirancang untuk murid.

Referensi:

1. OECD. 2020. Curriculum (re) design from the OECD Education 2030 project. Overview brochure

2. Pusat Asesmen dan Pembelajaran. 2021. Paparan Pembelajaran Paradgima Baru. Jakarta: Kementerian Pendidikan,, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.


(Sumber Video Belajar Mandiri di PMM)

Senin, 05 Desember 2022

Apa itu Kurikulum?

Kurikulum Merdeka 

1.Apa itu Kurikulum?



Salam dan bahagia ibu dan bapak guru Selamat datang di modul "kurikulum"kali ini kita akan mempelajari Apa itu kurikulum dan bagaimana kaitannya dengan pembelajaran.ini penting agar kita dapat lebih memahami peran dan fungsi kurikulum dalam pembelajaran.

*Ilustrasi Cerita Siswa dan Guru *

Murid A: Pak/Bu,Kenapa air di rumah kami bau dan tidak jernih ?

Murid B: Pak Guru,Kenapa sih kita diminta menjaga bumi ?Memangnya bumi kita kenapa,Pak ?

Murid C: Bu,saya dan Aldo kemarin melihat ibu kami masak Gudeg.Di daerah lain ada gudeg juga gak,sih, Bu?

Pak Heki :Bu, luar biasa ya perkembangan anak-anak zaman sekarang.Saya kadang kaget mereka tahu informasi itu dari mana,padahal saya belum ajarkan.Pertanyaan-pertanyaannya juga unik,Bu.Rasa ingin tahu mereka tinggi banget.Misal Mereka ingin tahu asal muasal makanan gudeg,bahannya apa saja,bagaimana cara memasaknya, bahkan sampai gudeg versi kaleng juga mereka tanyakan.

Bu Sri: Benar,Pak.Ternyata,keadaan sangat mempengaruhi cara belajar murid kita.Kadang,saya juga nggak bisa jawab pertanyaan dari mereka.Jadi,Saya harus belajar lagi untuk mengamati dan mengidentifikasi cara belajar mereka,supaya bisa masuk ke dunia mereka.

Pak Heki:Iya,ya Bu.Saya jadi mikir.
Dulu saya kasih pengetahuan,informasi ke anak-anak selalu sebelum KBK 2004.

Setelah itu, mulai dari kurikulum 2006, 2013,sampai sekarang. ternyata peran saya bukan lagi sebagai satu-satunya Sumber pengetahuan buat mereka. Kemajuan teknologi membuat pengetahuan dapat diakses anak-anak tanpa batas, membuat murid-murid kita punya banyak pilihan cara belajar.


Bu Sri: Iya Pak.Berarti
Kita juga harus meningkatkan kompetensi kita nih,Pak.

Pak Heki: Wah iya tuh,Bu.Pandemi ini awalnya sempat bikin saya pesimis dengan perkembangan murid.Tapi setelah saya rasa-rasa dan perhatiin,kok murid malah semakin berkembang dengan cara belajar mereka sendiri ya? saya juga jadi terdorong harus melek teknologi dan belajar untuk mengimbangi dan membantu mereka.

Bu Sri:Betul,Pak Ternyata memang harus kita pikirkan dan siapkan ya, kompetensi apa yang akan dibutuhkan oleh murid 10 tahun mendatang.
Tapi,gimana ya,Pak,cara membangun kompetensi itu.?

.............................................................


Ibu dan Bapak Guru, terkadang kita abai terhadap perubahan keadaan. Kita menganggap pengalaman bertahun-tahun kita sebagai guru selalu mampu mengantarkan keberhasilan murid kita.

Padahal, murid hidup pada zaman dan keadaan yang sudah berbeda.Cara berkomunikasi, cara belajar, dan cara memandang diri dan lingkungannya berbeda dengan keadaan yang kita alami pada zaman kita.

Nah, sekarang, keterampilan dan kompetensi apa yang dibutuhkan murid-murid kita untuk berkontribusi dalam lingkup lokal, nasional dan global?

Bagaimana cara mereka belajar?

Kurikulum seperti apa yang semestinya kita gunakan?

Yuk, ibu dan bapak, kita segarkan ingatan kita kembali, apa sih sejatinya kurikulum itu?

Sebenarnya, sampai hari ini, belum ada pengertian kurikulum yang mengikat secara universal.Meskipun kurikulum sering dimaknai sebagai keseluruhan pengalaman belajar murid, nyatanya lebih dari sekedar itu.

Kurikulum itu kompleks dan multidimensi.

Kurikulum dapat dimaknai sebagai titik awal sampai titik akhir pengalaman belajar murid.

Kurikulum juga diibaratkan jantungnya pendidikan. Jika jantungnya lemah, maka proses penyaluran darah tidak lancar dan bisa berakibat fatal.

Ralph Tyler, dalam bukunya "The Basic Principle of Currriculum", mengungkapkan setidaknya ada empat komponen dalam kurikulum
 1. Tujuan
 2. Konten
 3. Metode/Cara
 4. Evaluasi

Umumnya, beberapa negara mengklasifikasikan komponen kurikulum menjadi 3 bagian
 1. Tujuan pembelajaran/konten
 2. Panduan pedagogi
 3. Panduan asesmen

Komponen itu dapat kita gunakan dalam mendesain kurikulum dan pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid.

Mulai dari kompetensi apa yang akan dimiliki murid sampai proyeksi masa depan dan bagaimana cara mewujudkan atau mencapai kompetensi tersebut.

Dengan begitu, sangat jelas bahwa murid menjadi acuan atau "core" dari kurikulum itu sendiri.

Maka, kemerdekaan murid dalam belajarlah" jantung"dari pengembangan kurikulum.

Lalu, apa sih peran dan fungsi kurikulum ?

Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional.Kurikulum berperan sebagai pedoman dan acuan kita dalam pembelajaran.Maka

Fungsi kurikulum bagi guru adalah untuk memandu dalam proses belajar murid.

Peran dan fungsi kurikulum dapat kita optimalisasi dalam kerangka,
 1. Mewariskan nilai dan budaya masyarakat yang relevan dengan masa kini
 2. Mengembangkan sesuatu yang dibutuhkan saat ini dan masa depan
 3. Menilai dan memilih sesuatu yang relevan atau konseptual sebagai kontrol sosial
 
Murid-murid kita yang beragam suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama harus menjadi pijakan awal dalam pengembangan kurikulum. Sehingga, kurikulum dapat digunakan sesuai dengan konteks di mana satuan pendidikan itu berada.

Ibu dan Bapak guru. Sesuai peran kita sebagai ujung tombak implementasi kurikulum dalam proses pembelajaran, kita harus tahu bahwa kurikulum nasional itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan.

Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum diperlukan di setiap satuan pendidikan.

"Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai zamannya"

Di sinilah peran kita sebagai pemilik dan pengembang kurikulum di satuan pendidikan.

Kita harus melakukan adaptasi sesuai dengan konteks dan karakteristik murid.

Begitupun dengan pembelajaran. Kitalah yang lebih mengetahui kebutuhan murid-murid kita, kompetensi Apa yang dibutuhkan dan bagaimana cara mewujudkannya.

Proyeksi pendidikan 2030 dilakukan oleh OECD "Organisation for Ekonomc Co-operation Development"

Bahwa kompetensi tidak hanya : -kognitif
  - Sikap
  - Psikomotorik,tetapi ada juga 
  - Value/Nilai,
  Yang melengkapi kompetensi murid

Saat ini, kualitas literasi dan numerasi, kesehatan mental dan sosial emosional murid merupakan pondasi atau prasyarat yang diperlukan murid.

Ini untuk membangun kompetensi transformatif dengan siklus belajar:
Antisipasi -Aksi -Refleksi

Menuju pembelajar sepanjang hayat.

Transformasi pembelajaran dengan paradigma baru menekankan pada penguatan kompetensi dan materi esensial atau bermakna.

Bukan banyaknya materi /konten yang didapatkan murid, melainkan konten /materi esensial dalam pembelajaran yang dilaksanakan secara mendalam.

Proses pembelajaran tersebut, salah satunya dapat menggunakan siklus pembelajaran Inkuiri.

Pembelajaran Inkuiri yang menekankan pada rasa ingin tahu sebagai dorongan belajar yang kuat pada murid. Pentingnya rasa ingin tahu murid perlu kita munculkan kemudian digabungkan dengan obrolan atau percakapan yang menjadi bagian dari pembelajaran.

Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti Mengapa ?
Apa ?
Bagaimana?

Merupakan cara guru untuk menstimulasi tujuan belajar murid, mengeksplorasi apa yang telah mereka ketahui, sehingga menghasilkan dampak yang bermakna dalam penyelidikan penyelidikan yang mereka lakukan.

Lalu seperti apa siklus pembelajaran inkuiri itu?

Pertama,menyalakan rasa ingin tahu murid perlu dilakukan agar membuat imajinasi mereka berjalan dan bekerja dalam pikirannya.

Kedua, tahu mengumpulkan data, fakta dan bukti dari eksplorasi apa yang murid telah ketahui serta menemukan informasi baru dengan beragam keterampilan yang mereka miliki.

Ketiga, memilah, mengorganisasi, menganalisa, menterjemahkan dan mengkomunikasikan apa yang murid pelajari dengan berfokus pada peningkatan keterampilan berpikirnya.

Keempat, membuat koneksi mencoba menghubungkan dengan topik lain yang berkaitan dengan konteks diri murid dan lingkungannya.

Kelima, menyelami / mendalami mendorong murid  mengambil makna/ esensi dari kegiatan belajarnya, melalui penyelidikan juga murid mendalami/menyelami rasa ingin tahu lebih jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di diri mereka.

Keenam, aksi atau tindakan merefleksikan apa yang telah murid pelajari, dan membuat aksi nyata dari pembelajaran bermakna yang didapatkannya.Aksi ini muncul karena inovasi internal dari dalam diri murid.

Dan juga tidak kalah pentingnya, transformasi pembelajaran murid berfokus pada pengembangan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan"Profil Pelajar  Pancasila Melalui Pembelajaran berbasis Projek.

Dengan demikian, diharapkan murid dapat memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri dan lingkungannya kelak.

Ibu dan Bapak Guru, setelah memahami peran dan fungsi kurikulum apa yang selanjutnya dapat kita lakukan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang berpihak pada murid?

Selamat belajar ibu dan Bapak Guru hebat!


Referensi:

1. OECD. 2020. Curriculum (re) design from the OECD Education 2030 project. Overview brochure

2. Pusat Asesmen dan Pembelajaran. 2021. Paparan Pembelajaran Paradgima Baru. Jakarta: Kementerian Pendidikan,, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

3. Tyler, W., Ralph. 1949. The Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago: The University if Chicago Press


(Sumber Video Belajar Mandiri di PMM)











  






 

Doa Pembuka Rezeki dan Terhindar Musibah

Doa Pembuka Rezeki dan Terhindar Musibah  🌿 Doa dari Al-Qur’an Doa Memohon Rezeki yang Luas dan Berkah 📖 QS. Al-Maidah: 114 "Allahumm...