Jumat, 06 November 2020

INOVASI DAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ( TUGAS INDIVIDU )

 

 

 

INOVASI DAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN

 

LAPORAN

Disampaikan untuk memenuhi sebagian dari syarat

Memenuhi Mata Kuliah Inovasi dan Paradigma Baru Pendidikan

Program Studi Magister Administrasi Pendidikan

Dosen Dr.Connie,M.Pd

OLEH :

USMAN ALAMSYAH

NIM:A2K020040

 

 

 


PROGRAM STUDI

 MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA FKIP

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN 2020

 

LATIHAN UNTUK TUGAS INDIVIDU

 

Mata Kuliah

:

 INOVASI DAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN

SKS/ Kelas

:

2 SKS/ KELAS  B

Pengampu      

:

Dr.Connie,M.Pd

Mahasiswa

:

Usman Alamsyah

NIM

:

A2K020040

 

 

PETUNJUK

1.Jawablah pertanyaan di bawah ini  pada lembar jawaban yang telah disediakan.

2.Untuk menjawab disarankan dengan  menggunakan rujukan literatur.

3.Kerjakan sendiri, antara mahasiswa yang satu dengan yang lain harus berbeda redaksional jawabannya.

 

SOAL

1.Inovasi pendidikan amat diperlukan bagi dunia pendidikan, utamanya di sekolah. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan inovasi. Berikanlah rasional mengapa inovasi pendidikan itu amat penting bagi sekolah?

Jawab

Dapat kita rasakan, perubahan zaman pada saat ini begitu pesat. Namun, sistem pendidikan di Negara kita hanya sedikit yang mengalami perubahan. Tidak dipungkiri banyak sekolah yang masih menggunakan metode atau cara pembelajaran tradisional (lama). Padahal, sekarang ini kita berada di zaman informasi. Pemenangnya adalah yang dapat menguasai informasi dan mampu menggunakannya dalam kehidupan. Untuk itu, perlu adanya usaha untuk menyetarakan sistem pendidikan di Negara kita dan diharapkan dapat menyaingi Negara – Negara lainnya.

Dalam kenyataan, pembelajaran terlihat berjalan statis dengan kegiatan pembelajaran monoton yang berakibat pada ketidakberkembangan pengetahuan peserta didik, sehingga banyak terjadi kesenjangan antara harapan yang dicita – citakan dengan kenyataan yang terjadi dalam pembelajaran. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk lebih mengarah kepada sesuatu yang diharapkan. Keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh guru, dapatkah guru tersebut menciptakan suasana yang kondusif dan menarik. Tidak jarang peserta didik merasa jenuh dengan penyampaian materi oleh guru yang selalu monoton dan tidak pernah ada perubahan dalam pembelajarannya.

Jika dilihat dari kajian post modern teori otak, pembelajaran dapat disetarakan dengan mendesain otak secara alami yang disebut Pembelajaran Berbasis Otak. Hal ini dilakukan agar otak dapat berkembang dengan baik dan selalu dapat membuat keputusan secara alamiah. Selain itu, pembelajaran berbasis otak juga mempertimbangkan bagaimana peserta didik dapat selalu menggunakan otaknya dalam pembelajaran.Namun perlu kita ingat, setiap peserta didik itu pribadi yang unik, baik perkembangan, pemikiran maupun otaknya yang masing – masing memiliki cara belajar tersendiri.

Disinilah dapat kita lihat betapa pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan. Adanya inovasi pendidikan ini diperlukan agar mampu menyetarakan pendidikan kita dengan realita kehidupan yang semakin maju. Pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan karena perkembangan zaman yang sangat pesat serta kebutuhan manusia yang mengalami peningkatan. Inovasi inilah yang harus dicari oleh seorang guru agar kemampuan – kemampuan yang ada dalam diri peserta didik dapat lebih ditonjolkan.

SOAL

2.Deskripsikanlah konsep-konsep inovasi pendidikan di bawah ini ?

a.Inovasi

b.Invention

c.Discovery

d.Modernisasi

e.Politik Inovasi

f.Proses inovasi

g.Tingkatan inovasi

h.Syarat Inovasi

 

Jawab

a.•Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau

sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk

memecahkan suatu masalah tertentu.

•Suatu ide praktek dan obyek yang dilihatnya sebagai sesuatu yang baru ( Rogers,1962 )

•Karakteristik

(1)ide atau gagasan atau pengetahuan baru

(2)praktik/ perilaku/metode atau aktivitas baru

(3) objek atau produk baru

(4) terdapat unsur yang baru dilihat,dirasakan diucapkan,dan dipraktekkan.

 

b.Invensi (invention) adalah suatu penemuan sesuatu yang benar-benar baru,

artinya hasil kreasi manusia. Benda atau hal yang ditemui itu benar-benar

sebelumnya belum ada, kemudian diadakan dengan hasil kreasi baru. Misalnya

penemuan teori belajar, teori pendidikan, teknik pembuatan barang dari plastik,

mode pakaian, dan sebagainya. Tentu saja munculnya ide atau kreativitas

berdasarkan hasil pengamatan, pengalaman, dari hal-hal yang sudah ada, tetapi

wujud yang ditemukannya benar-benar baru.

 

c.Diskoveri (discovery) adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang.

Misalnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya benua Amerika itu sudah lama

ada, tetapi baru ditemukan oleh Columbus pada tahun 1492, maka dikatakan

Columbus menemukan benua Amerika, artinya orang Eropa yang pertama

menjumpai benua Amerika.

 

d.Modernisasi

“modern” dari satu segi dapat diartikan sesuatu yang baru dalam arti lebih maju atau lebih baik daripada yang sudah ada. Baik dalam arti lebih memberikan kesejahteraan atau kesenangan bagi kehidupan.

Eissentadt menjelaskan bahwa menurut sejarahnya modernisasi adalah proses perubahan sistem sosial, ekonomi, dan politik, yang telah berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke 17 sampai abad ke 19, dan kemudian telah berkembang pula di berbagai Negara di Eropa. Dalam abad ke 19 dan 20 berkembang pula ke Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Proses perkembangan atau perubahan itu berlangsung secara bertahap, dan tidak semua masyarakat

berkembang dalam tahap urutan yang sama. Jadi modernisasi pada dasarnya merupakan proses perkembangan, secara kebetulan Eropa Barat dan Amerika Utara telah berkembang lebih dahulu, dan sekarang bangsa dari dunia ketiga sedang berjuang untuk menyamakan diri mencapai status kehidupan modern.

Dengan kata lain modernisasi adalah bekerja sama dengan dunia dengan maksud

agar dapat meningkatkan hal-hal yang esensial dalam kehidupan, walaupun

mungkin juga terjadi kekacauan atau perpecahan. (M. Francais Abraham, 1980:4).

Agar lebih jelas dan lebih luas wawasan serta pemahaman kita tentang

pengertian, batasan atau definisi modernisasi, perhatikan beberapa definisi atau

pengertian modernisasi yang dikemukakan para ahli berikut ini.

 

1. Moore. What is involved in modernization is a “total transformation of a

traditional or pre-modern society into the types of technology and associated

social organization that characterize the “advanced” economically

prosperous, and relatively politically stableations of the western world. But

what exactly does (or should) modernization mean?. Unquestionably, the

people of the third world nations tend to know very well that people in

industrialized societies have a higher standard of living, and they tend to want

better services (such as education, and medical care) and more material

wealth. Unquestionably, too, the masses and the leaders in these countries

want political and economic equality with the other nations of the world.

(Donald P Ely, 1982, Seminar on Educational Change)

2. Everett Rogers. Modernization in the process by which individuals change

from a traditional way of life to a more complex, technologically advanced,

and rapidly changing style of life. (Francis Abraham, 1980:5).

3. Black. Modernization is the process by which historically evolved institutions

are adapted to the rapidly change functions that reflect the unprecedented

increase in man’s knowledge, permitting control over his environment, that

accompanied the scientific revolution (Francis Abraham, 1980:5).

4. Lerner. Modernization is simply “ a secular trend unilateral direction from

traditional to participant life ways”. (Francis Abraham, 1980:5)

5. Marion Levy, takes “the measure of modernization the rational inanimate to

animate source of power. The higher that ratio, higher is the degree of

modernization”. (Francis Abraham, 1980:5)

6. And Chodak identifies three types of modernization, named (1) Industrial

modernization which arises out of the necessity, (2) Acculturative.modernization which is the creation of semi-developmental, buffer culture,

which result from the super-position of the foreign culture on the traditional

culture; (3) Induced modernization which consists of organized effort aimed at

infrastructure building and planned socio-economy development. (Francis

Abraham, 1980:5)

7. Inkeles, described modernity in terms of a number of psychological variables

that constitute a kind of mentality characteristic the typical modern man

(Francis Abraham, 1980:5)

Dari beberapa definisi atau pendapat tentang modernisasi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa semuanya sependapat modernisasi adalah proses perubahan sosial dari masyarakat tradisional (yang belum modern) ke masyarakat yang lebih maju (masyarakat industri yang sudah modern). Di antara tanda-tanda masyarakat yang sudah maju  (modern) ialah bidang ekonomi telah makmur, bidang politik sudah stabil, terpenuhi pelayanan kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Modernisasi adalah proses perubahan sosial dari masyarakat tradisional (yang belum modern) ke masyarakat yang lebih maju (masyarakat industri yang sudah modern).

 

e.Politik Inovasi

Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Wikipedia

Inovasi adalah Suatu ide praktek dan obyek yang dilihatnya sebagai sesuatu yang baru ( Rogers,1962 )

Jadi Politik Inovasi adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.menyakut yang baru

Politik Inovasi perlu diketengahkan agar akuisisi dan penguasaan iptek dapat diakselerasi sebagai kekuatan pembangkit kesejahteraan bersama.

Pakar inovasi publik Eva Sorensen (2016) menjelaskan bahwa terdapat tiga arena dalam inovasi politik, yaitu institusi, proses dan kebijakan. Tiga hal tersebut dapat menunjukkan sejauh mana inovasi politik kita dan arena mana saja yang dapat di-improve.

Pertama, pernah inovasi institusi muncul ketika partai politik berani melakukan konvensi untuk menentukan calon presiden meskipun tak semua bahkan hingga kini pembaruan-pembaruan dalam tata kelola internal partai belum banyak berubah, seperti tertutupnya keuangan partai bahkan partai-partai tidak memiliki sebuah kitab manifesto garis perjuangan mereka yang rigid, semua dapat terombang-ambing tergantung kepentingan yang dimainkan. Rakyat bingung memilih partai mana yang akan membela kesejahteraan mereka.

Kedua, arena inovasi proses politik, jujur saja arena politik memiliki pola pengambilan keputusan yang sentralistis, semua Pilkada akan menunggu keputusan pimpinan partai di Jakarta, bahkan untuk semua isu berlaku hal yang sama, demokrasi masih terpusat dalam partai yang tidak kompatibel dengan logika desentralisasi selama ini. Ketiga, inovasi kebijakan, arena inovasi kebijakan yang merupakan hasil akhir nyata dari berbagai perdebatan inovasi institusi dan proses. Produk regulasi apapun yang dihasilkan tentu bermutu dengan berbagai metode inovatif untuk mencapainya, tidak ada lagi istilah undang-undang yang baru ditelurkan ternyata ketinggalan zaman seperti UU No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik atupun tiba-tiba muncul inisiatif revisi untuk kepentingan sementara seperti UU No. 5 Tahun 2014 tentang aparatur sipil negara.

 

f.Proses inovasi

(1)Eferett( 1983):Mengetahui masalah,penelitian, pengembangan, komersialisasi, adopsi dan difusi dan konsekuensi.

(2).Lavidge dan Steiner (1961):menyadari,mengetahui,menyukai, memilih, mempercayai,membeli.

(3). Rogers (1962):menyadari,menaruh perhatian,menilai,mencoba,menerima.

(4). Milo( 1971 ):konseptualisasi,tentatif adopsi,penerimaan sumber, implementasi,institusionalisasi.

(5). Sasongko (2009):analisis kebutuhan, menyusun desain ,kajian atau penelitian dan pengembangan, penerapan skala kecil,evaluasi dan revisi,penerapan skala besar.

 

g.Tingkatan inovasi (Sasongko,2009)

(0). Menolak

(1). Pengadopsi

(2). Peniruan

(3). Imitasi

(4). Penciptaan asli

 

h.Syarat Inovasi

syarat inovasi:

(1).ada semangat 

(2).jujur

(3).disiplin

(4).modal

 

Soal

3.Buatlah ringkasan materi perkuliahan dari suatu sumber referensi yang pernah Anda baca. Sebutkan: Nama pengarang. tahun. Nama buku/referensi. Kota penerbit: penerbit (jika dari internet, sebutkan alamatnya)   .

 

MODUL 1

KONSEP DASAR INOVASI PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Modul ini merupakan landasan penting bagi Anda untuk mempelajari

inovasi pendidikan. Anda tentu telah memahami bahwa kemajuan dan perubahan

kehidupan sosial yang serba cepat ini merupakan tantangan dan atau masalah

dalam pendidikan. Bagaimana kita harus menyiapkan bahkan mampu

mengembangkan anak didik agar mereka mampu menghadapi kehidupan modern

ini?. Bagaimana kurikulum sekolah harus disusun agar rekevan dengan tantangan

kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan?. Bagaimana mendayagunakan fasilitas

peralatan teknologi untuk mengefektifkan proses belajar?. Metodologi apa yang

tepat digunakan sesuai dengan perubahan pola kehidupan dewasa ini?. Masih

banyak lagi permasalahan dalam bidang pendidikan yang tidak akan pernah habis

karena tantangan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang.

Dalam modul ini, Anda akan mempelajari konsep dasar inovasi

pendidikan. Dengan memahami inovasi pendidikan, Anda diharapkan dapat

memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Dapat menjelaskan perbedaan pengertian antara diskoveri, invensi, dan

inovasi.

2. Dapat menjelaskan kaitan antara inovasi dan modernisasi.

3. Dapat menjelaskan pengertian inovasi pendidikan.

 

Kemampuan tersebut sangat penting bagi Anda untuk mengembangkan wawasan

dan pemahaman tentang inovasi pendidikan, yang dapat menjadi bahan analisis

Anda.

Agar Anda berhasil dengan baik dalam mempelajari modul ini, ikuti

petunjuk belajar sebagai berikut:

1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini sampai Anda

memahami betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari modul ini.

2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci dan kata-kata

yang Anda anggap baru. Carilah dan baca pengertian kata-kata kunci dalam

daftar kata-kata sulit modul ini atau dalam kamus yang ada.

3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi modul ini melalui pemahaman

sendiri dan tukar pikiran dengan mahasiswa atau guru lain dan dengan tutor

Anda.

4. Terapkan pengertian-pengertian inovasi pendidikan secara imajiner (dalam

pikiran) dan dalam situasi terbatas melalui simulasi sejawat (peer-group

simulation) pada saat tutorial.

5. Mantapkan pemahaman Anda melalui diskusi mengenai pengalaman simulasi

dalam kelompok kecil atau klasikal pada saat tutorial.

 

 

URAIAN MATERI

Kata ”innovation” (bahasa Inggris) sering diterjemahkan segala hal yang

baru atau pembaharuan (S. Wojowasito, 1972), tetapi ada yang menjadikan kata

innovation menjadi kata Indonesia yaitu ”inovasi”. Inovasi kadang-kadang juga

dipakai untuk menyatakan penemuan, karena hal yang baru itu hasil penemuan.

Kata penemuan juga sering digunakan untuk menterjemahkan kata dari bahasa

Inggris ”discovery” dan ”invention”. Ada juga yang mengkaitkan antara

pengertian inovasi dan modernisasi, karena keduanya membicarakan usaha

pembaharuan.

Untuk memperluas wawasan serta memperjelas pengertian inovasi

pendidikan, maka perlu dibicarakan dulu tentang pengertian discovery, invention,

innovation, dan modernisasi sebelum membicarakan tentang pengertian inovasi

pendidikan

A. Pengertian Discovery, Invention, dan Innovation

”Discovery”, ”invention”, dan ”innovation” dapat diartikan dalam bahasa

Indonesia ”penemuan”, maksudnya ketiga kata tersebut mengandung arti

ditemukannya sesuatu yang baru, baik sebenarnya barangnya itu sendiri sudah ada

lama kemudian baru diketahui atau memang benar-benar baru dalam arti

sebelumnya tidak ada. Demikian pula mungkin hal yang baru itu diadakan dengan

maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Inovasi dapat menggunakan diskoveri

 

 

atau invensi. Untuk jelasnya marilah kita bicarakan ketiga pengertian tersebut satu

persatu.

Diskoveri (discovery) adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya

benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang.

Misalnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya benua Amerika itu sudah lama

ada, tetapi baru ditemukan oleh Columbus pada tahun 1492, maka dikatakan

Columbus menemukan benua Amerika, artinya orang Eropa yang pertama

menjumpai benua Amerika.

Invensi (invention) adalah suatu penemuan sesuatu yang benar-benar baru,

artinya hasil kreasi manusia. Benda atau hal yang ditemui itu benar-benar

sebelumnya belum ada, kemudian diadakan dengan hasil kreasi baru. Misalnya

penemuan teori belajar, teori pendidikan, teknik pembuatan barang dari plastik,

mode pakaian, dan sebagainya. Tentu saja munculnya ide atau kreativitas

berdasarkan hasil pengamatan, pengalaman, dari hal-hal yang sudah ada, tetapi

wujud yang ditemukannya benar-benar baru.

Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang

dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau

sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun

diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

 

Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pengertian inovasi

dan juga guna memperluas wawasan perhatian, beberapa definisi inovasi yang

dibuat para ahli dikemukakan di bawah ini:

1. An innovation is an idea for accomplishing some recognition social and in a

new way or for a means of accomplishing some social (Donald P. Ely 1982,

Seminar on Educational Change).

2. An innovation is any idea, practice, or mate artifact perceived to be new by

the relevant unit of adopt. The innovation is the change object. A change is

the altera in the structure of a system that requires or could be required

relearning on the part of the actor (s) in response to a situation. The

requirements of the situation often involve a res to a new requirement is an

inventive process producing an invention. However, all innovations, since not

everything an individual or formal or informal group adopt is perceived as

new. (Zaltman, Duncan, 1977:12)

3. The term innovation is usually employed in three different contexts. In one

context it is synonymeus with invention; that is, it refers to a creative process

whereby two or more existing concepts or entities are combined in some novel

way to produce a configuration not previously known by the person involved.

A person or organization performing this type of activity is usually said to be

innovative. Most of the literature on creativity treats the term innovation in

this fashion. (Zaltman, Duncan, Holbek, 1973:7)

 

 

4. Innovation is ….. the creative selection, organization and utilization of human

and material resources in new and unique ways which will result in the

attainment of a higher level of achievement for the defined goals and

objectives. (Huberman, 1973:5)

5. Innovation is a species of the genus “change”. Generally speaking it seems

useful to define an innovation as a deliberate, novel, specific change, which is

thought to be more efficacious in accomplishing the goal of system. From the

point of view of this book (innovation in education), it seem helpful to

consider innovations as being willed and planned for rather than as accruing

haphazardly. (Matthew B. Miles, 1964:14).

6. An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an

individual or other unit of adoption. It matters little, so far as human behavior

is concerned, whether or not an idea is “objectively” new as measured by the

lapse of time since its first use or discovery. The perceived newness of the

idea for the individual determines his or her reaction to it. If the idea seems

new to the individual, it is an innovation. (M. Rogers, 1983:11).

Dari beberapa definisi inovasi yang dibuat para ahli tersebut, dapat

diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang pengertian

inovasi antara satu dengan yang lain. Jika terjadi ketidaksamaan hanya dalam

susunan kalimat atau penekanan maksud, tetapi pada dasarnya pengertiannya

sama. Semua definisi tersebut menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal

yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau

 

dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang

(masyarakat). Hal yang baru itu dapat berupa hasil invensi atau diskoveri, yang

digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah.

B. Inovasi dan Modernisasi

Pada waktu membicarakan inovasi sering orang mengajukan pertanyaan

tentang modernisasi, karena antara keduanya tampak persamaan yaitu kedua-

duanya merupakan perubahan sosial. Agar dapat mengetahui apa perbedaan dan

juga kaitan antara inovasi dan modernisasi, perlu dipahami apa inovasi dan apa

modernisasi, baru kemudian dicari kaitan antara keduanya. Inovasi telah

dibicarakan maka sekarang dibicarakan modernisasi.

Istilah (term) “modern” mempunyai berbagai macam arti dan juga

mengandung berbagai macam tambahan arti (connotations). Istilah moden ini

digunakan tidak hanya untuk orang-orang tetapi juga untuk bangsa, sistem politik,

ekonomi lembaga seperti rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, perumahan,

pakaian, serta bebagai macam kebiasaan. Pada umumnya kata modern digunakan

untuk menunjukkan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik, lebih maju

dalam arti lebih menyenangkan, lebih meningkatkan kesejahteraan hidup. Dengan

cara baru (modern) sesuatu akan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan.

Misalnya dalam perkembangan transportasi, karena kuda lebih modern daripada

gerobak yang ditarik orang, tetapi mobil lebih modern daripada kereta kuda,

pesawat lebih modern daripada mobil. Jadi “modern” dari satu segi dapat

 

 

diartikan sesuatu yang baru dalam arti lebih maju atau lebih baik daripada yang

sudah ada. Baik dalam arti lebih memberikan kesejahteraan atau kesenangan bagi

kehidupan.

Eissentadt menjelaskan bahwa menurut sejarahnya modernisasi adalah

proses perubahan sistem sosial, ekonomi, dan politik, yang telah berkembang di

Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke 17 sampai abad ke 19, dan kemudian

telah berkembang pula di berbagai Negara di Eropa. Dalam abad ke 19 dan 20

berkembang pula ke Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Proses perkembangan

atau perubahan itu berlangsung secara bertahap, dan tidak semua masyarakat

berkembang dalam tahap urutan yang sama. Jadi modernisasi pada dasarnya

merupakan proses perkembangan, secara kebetulan Eropa Barat dan Amerika

Utara telah berkembang lebih dahulu, dan sekarang bangsa dari dunia ketiga

sedang berjuang untuk menyamakan diri mencapai status kehidupan modern.

Dengan kata lain modernisasi adalah bekerja sama dengan dunia dengan maksud

agar dapat meningkatkan hal-hal yang esensial dalam kehidupan, walaupun

mungkin juga terjadi kekacauan atau perpecahan. (M. Francais Abraham, 1980:4).

Agar lebih jelas dan lebih luas wawasan serta pemahaman kita tentang

pengertian, batasan atau definisi modernisasi, perhatikan beberapa definisi atau

pengertian modernisasi yang dikemukakan para ahli berikut ini.

1. Moore. What is involved in modernization is a “total transformation of a

traditional or pre-modern society into the types of technology and associated

social organization that characterize the “advanced” economically

 

prosperous, and relatively politically stableations of the western world. But

what exactly does (or should) modernization mean?. Unquestionably, the

people of the third world nations tend to know very well that people in

industrialized societies have a higher standard of living, and they tend to want

better services (such as education, and medical care) and more material

wealth. Unquestionably, too, the masses and the leaders in these countries

want political and economic equality with the other nations of the world.

(Donald P Ely, 1982, Seminar on Educational Change)

2. Everett Rogers. Modernization in the process by which individuals change

from a traditional way of life to a more complex, technologically advanced,

and rapidly changing style of life. (Francis Abraham, 1980:5).

3. Black. Modernization is the process by which historically evolved institutions

are adapted to the rapidly change functions that reflect the unprecedented

increase in man’s knowledge, permitting control over his environment, that

accompanied the scientific revolution (Francis Abraham, 1980:5).

4. Lerner. Modernization is simply “ a secular trend unilateral direction from

traditional to participant life ways”. (Francis Abraham, 1980:5)

5. Marion Levy, takes “the measure of modernization the rational inanimate to

animate source of power. The higher that ratio, higher is the degree of

modernization”. (Francis Abraham, 1980:5)

6. And Chodak identifies three types of modernization, named (1) Industrial

modernization which arises out of the necessity, (2) Acculturative

 

modernization which is the creation of semi-developmental, buffer culture,

which result from the super-position of the foreign culture on the traditional

culture; (3) Induced modernization which consists of organized effort aimed at

infrastructure building and planned socio-economy development. (Francis

Abraham, 1980:5)

7. Inkeles, described modernity in terms of a number of psychological variables

that constitute a kind of mentality characteristic the typical modern man

(Francis Abraham, 1980:5)

Dari beberapa definisi atau pendapat tentang modernisasi yang

dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa semuanya

sependapat modernisasi adalah proses perubahan sosial dari masyarakat

tradisional (yang belum modern) ke masyarakat yang lebih maju (masyarakat

industri yang sudah modern). Di antara tanda-tanda masyarakat yang sudah maju

(modern) ialah bidang ekonomi telah makmur, bidang politik sudah stabil,

terpenuhi pelayanan kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Perbedaan rumusan definisi modernisasi antara para ahli tersebut hanya

perbedaan penekanan. Ada yang menekankan pada perubahan sosial secara

menyeluruh, seperti yang dikemukakan More, Black, and Chodak, mereka ini

mengartikan modernisasi sebagai proses perubahan kehidupan masyarakat.

Sedangkan Rogers, Lerner, dan Inkeles menekankan pada perubahan pribadi

(individu), artinya perubahan individu dari gaya atau pola hidup tradisional ke

gaya atau pola hidup modern. Perubahan sikap, sifat atau gaya hidup individu

 

 

terjadi sebagai akibat terjadinya perubahan kehidupan masyarakat yakni dari

masyarakat tradisional ke masyarakat yang sudah maju (industri).

Inkeles mengemukakan secara detail tentang ciri-ciri manusia modern,

berdasarkan penelitiannya pada masyarakat yang industrinya sudah maju. Antara

lain ia mengemukakan bahwa ada 12 aspek yang menjadi tanda (karakteristik)

manusia modern yaitu:

1. Bersikap terbuka trehadap pengalaman baru, artinya jika menghadapi

tawaran atau ajakan hal-hal yang baru yang lebih menguntungkan untuk

kehidupannya akan selalu mau memikirkan dan kemudian mau menerimanya,

tidak menutup diri terhadap perubahan.

2. Selalu siap menghadapi perubahan sosial, artinya siap untuk menerima

perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, misalnya partisipasi

dalam bidang politik, peningkatan kesempatan kerja bagi wanita, perpindahan

penduduk, pergaulan atau hubungan orang tua dengan pemuda dan

sebagainya. Manusia modern siap untuk memahami perubahan yang terjadi di

sekitarnya.

3. Berpandangan yang luas, artinya pendapat-pendapatnya tidak hanya

berdasarkan apa yang ada pada dirinya, tetapi mau menerima pendapat yang

datang dari luar dirinya serta dapat memahami adanya perbedaan pandangan

dengan orang lain. Ia dapat memahami sikap orang lain yang berbeda dengan dirinya.

 

 

4. Mempunyai dorongan ingin tahu yang kuat. Manusia modern akan selalu

berusaha memperoleh informasi tentang apa yang terjadi di lingkungannya

dan juga informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan kehidupannya.

5. Manusia modern lebih berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan

datang daripada masa yang lampau. Manusia modern tidak hanya akan

mengenang kejayaan atau kegagalan masa lalu, tetapi lebih aktif untuk berfikir

bagaimana masa sekarang dan yang datang.

6. Manusia modern berorientasi dan juga percaya pada perencanaan baik

jangka panjang maupun jangka pendek. Kehidupan manusia moden selalu

direncanakan sebelumnya melalui perencanaan jangka pendek maupun jangka

panjang.

7. Manusia modern lebih percaya pada hasil perhitungan manusia dan

pemikiran manusia daripada takdir atau pembawaan. Ia percaya bahwa

manusia dapat mengontrol kejadian di sekitarnya.

8. Manusia modern menghargai ketrampilan teknik dan juga menggunakannya

sebagai dasar pemberian imbalan.

9. Wawasan pendidikan dan pekerjaan. Manusia modern memiliki wawasan

yang lebih maju tentang pendidikan dan pekerjaan. Pendidikan di sekolah

formal lebih ditekankan untuk menguasai ketrampilan membaca, menulis dan

berhitung daripada untuk melaksanakan pendidikan agama atau moral, karena

ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan dapat dipakai untuk memecahkan

masalah kehidupan. Demikian pula manusia modern akan memiliki pekerjaan

 

 

yang dapat memberi keuntungan walaupun mungkin melanggar sangsi

kepercayaan tradisional.

10. Manusia modern menyadari dan menghargai kemuliaan orang lain terutama

orang yang lemah seperti wanita, anak-anak, dan bawahannya.

11. Memahami perlunya produksi. Manusia modern dalam mengambil keputusan

akan mempertimbangkan juga sejauh mana dampak terhadap hasil produksi

dari suatu industri (ia sebagai pegawai perusahaan ikut menyadari akan

kepentingan perusahaan).

Berdasarkan uraian tersebut kini tiba saatnya untuk membicarakan kaitan

antara inovasi dan modernisasi. Inovasi dan modernisasi keduanya merupakan

perubahan sosial, perbedaannya hanya pada penekanan ciri dari perubahan itu.

Inovasi menekankan pada ciri adanya sesuatu yang diamati sebagai sesuatu yang

baru bagi individu atau masyarakat sedangkan modernisasi menekankan pada

adanya proses perubahan dari tradisional ke modern, atau dari yang belum maju

ke yang sudah maju. Jadi dapat disimpulkan bahwa diterimanya suatu inovasi

sebagai tanda adanya modernisasi. Misalnya untuk meningkatkan kesejahteraan

perlu diadakan transmigrasi. Transmigrasi merupakan hal yang baru bagi

masyarakat, maka transmigrasi adalah suatu inovasi. Masyarakat yang sudah mau

menerima ide transmigrasi dan mau melaksanakan transmigrasi berarti sudah

memenuhi ciri masyarakat modern yang siap menghadapi perubahan dan

meninggalkan pola pikir tradisi yang bersemboyan (bahasa Jawa) ”mangan ora

 

mangan yen kumi” artinya meskipun tidak makan asal tetap berkumpul dengan

sesama saudara.

C. Pengertian Inovasi Pendidikan

Inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi

untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan ialah suatu ide,

barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang

atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskaveri,

yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan

masalah pendidikan.

Pendidikan adalah suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-

hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam

arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem

dalam arti yang luas misalnya sistem pendidikan nasional. Mattew B. Miller

menjelaskan pengertian inovasi pendidikan sebagai berikut: ”To give more

concreteness the universe called ”educational innovations” some samples are

described billow. They are organized according to the aspect of a social system

which they appear to be most clearly associated. In most cases social system

involved should be taken to be that of a school or cell although some innovations

take place within the context of many larger systems.”

Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen

pendidikan atau komponen sistem sosial sesuai dengan yang dikemukakan oleh B.

 

Miles, dengan perubahan isi disesuaikan dengan perkembangan pendidikan

dewasa ini.

- Pembinaan personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial

tentu menentukan personal (orang) sebagai komponen sistem. Inovasi yang

sesuai dengan komponen personel misalnya: peningkatan mutu guru, sistem

kenaikan pangkat, aturan tata tertib siswa, dan sebagainya.

- Banyaknya personal dan wilayah kerja. Sistem sosial tentu menjelaskan

tentang berapa jumlah personalia yang terikat dalam sistem serta dimana

wilayah kerjanya. Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini

misalnya: berapa ratio guru siswa pada satu sekolah dalam sistem PAMONG

pernah diperkenalkan ini dengan ratio 1 : 200 artinya satu guru dengan 200

siswa). Sekolah Dasar di Amerika satu guru dengan 27 siswa, perubahan

besar wilayah kepenilikan, dan sebagainya.

- Fasilitas fisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan

mendayagunakan berbagai sarana dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan.

Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini misalnya: perubahan

bentuk tempat duduk (satu anak satu kursi dan satu meja), perubahan

pengaturan dinding ruangan (dinding batas antar ruang dibuat yang mudah

dibuka, sehingga pada diperlukan dua ruangan dapat disatukan), perlengkapan

perabot laboratorium bahasa, penggunaan CCTV (TVCT- Televisi Stasiun

Terbatas), dan sebagainya.

 

Penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan

penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya:

pengaturan waktu belajar (semester, catur wulan, pembuatan jadwal pelajaran

yang dapat memberi kesempatan mahasiswa untuk memilih waktu sesuai

dengan keperluannya, dan sebagainya.

- Perumusan tujuan. Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang

jelas. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya: perubahan tujuan

tiap jenis sekolah (rumusan tujuan TK, SD disesuaikan dengan kebutuhan dan

perkembangan tantangan kehidupan), perubahan rumusan tujuan pendidikan

nasional dan sebagainya.

- Prosedur. Sistem pendidikan tentu mempunyai prosedur untuk mencapai

tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya:

penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran

individual, pengajaran kelompok, dan sebagainya.

- Peran yang diperlukan. Dalam sistem sosial termasuk sistem pendidikan

diperlukan kejelasan peran yang diperlukan untuk melancarkan jalannya

pencapaian tujuan inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya:

peran guru sebagai pemakai media (maka diperlukan keterampilan

menggunakan berbagai macam media), peran guru sebagai pengelola kegiatan

kelompok, guru sebagai anggota team teaching, dan sebagainya.

- Wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya berkembang suatu

wawasan dan perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran pelaksanaan

 

tugas. Kesamaan wawasan dan perasaan dalam melaksanakan tugas untuk

mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan akan mempercepat

tercapainnya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya:

wawasan pendidikan seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan

proses, perasaan cinta pada pekerjaan guru, kesediaan berkorban, kesabaran

sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan kurikulum SD yang

disempurnakan, dan sebagainya.

- Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Dalam sistem pendidikan

perlu ada kejelasan hubungan antara bagian atau mekanisme kerja antara

bagian dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan. Inovasi yang

relevan dengan komponen ini misalnya: diadakan perubahan pembagian tugas

antara seksi di kantor departemen pendidikan dan mekanisme kerja antar

seksi, di perguruan tinggi diadakan perubahan hubungan kerja antara jurusan,

fakultas, dan biro registrasi tentang pengadministrasian nilai mahasiswa, dan

sebagainya.

- Hubungan dengan sistem yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan

dalam beberapa hal harus berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang

lain. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: dalam pelaksanaan

usaha kesehatan sekolah bekerjasama atau berhubungan dengan Departemen

Kesehatan, data pelaksanaan KKN harus kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan sebagainya.

 

Strategi. Yang dimaksud dengan strategi dalam hal ini ialah tahap-tahap

kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan.

Adapun macam dan pola strategi yang digunakan sangat sukar untuk

diklasifikasikan, tetapi secara kronologis biasanya menggunakan pola urutan

sebagai berikut:

1) Desain. Ditemukannya suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya

berdasarkan suatu penelitian dan obeservasi atau hasil penilaian terhadap

pelaksanaan sistem pendidikan yang sudah ada.

2) Kesadaran dan perhatian. Suatu potensi yang sangat menunjang

berhasilnya inovasi ialah adanya kesadaran dan perhatian sasaran inovasi

(baik individu maupun kelompok) akan perlunya inovasi. Berdasarkan

kesadaran itu mereka akan berusaha mencari informasi tentang inovasi.

3) Evaluasi. Para sasaran inovasi mengadakan penilaian terhadap inovasi

tentang kemampuannya untuk mencapai tujuan, tentang kemungkinan

dapat terlaksananya sesuai dengan kondisi situasi, pembiayaannya dan

sebagainya.

4) Percobaan. Para sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk

membuktikan apakah memang benar inovasi yang dinilai baik itu dapat

diterapkan seperti yang diharapkan. Jika ternyata berhasil maka inovasi

akan diterima dan terlaksana dengan sempurna sesuai strategi inovasi yang telah direncanakan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alex Inkeles and David H. Smith, (1974), Becoming Modern, Individual Change

in Six Development Countries. Massachusett: Harvard University Press

Cambridge

Roger M & Shoemaker F. Floyd. (1971). Communication of Innovation. New

York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.

Everett M. Rogers. (1983). Diffusion of Innovation. New York: The Free Press A

Division of Macmillan Publishing Co. Inc

Francis Abraham (1980). Perspective on Modernization toward General Theory

of Third World Development. Washington: University Press of America

Gerald Zaltman, Philip Kolter, Ira Kaufman, (1977). Creating Social Change.

Holt Rinehart and Winston, Inc New York, Chicago, San Francisco,

Atlanta, Dallas, Toronto.

Gerald Zaltman and Robert Duncan (1977). Strategies for Planned Change. A

Wiley-Interscience Publication John Wiley and Sons, New York. London,

Sydney, Toronto.

Gerald Zaltman, Rober Duncan, Johny Holbek. (1973). Innovation and

Organization. A Wiley-Interscience Publication John Wiley and Sons,

New York. London, Sydney, Toronto.

Gerald Zaltman, David H. Florio, Linda a Sikorski. (1977). Dynamic Educational

Change. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing

Co. Inc

R.G. Havelock & A.M. Huberman. (1978). Solving Educational Problems,

Praegar Publisher, A Division of Holt, Rinehart and Winston, CBS, Inc,

New York.

Mattew B. Miles (1964). Innovation in Education, Bureau of Publication Teachers College. Columbia University New York

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEDOMAN LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE BAGI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

 PEDOMAN LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE BAGI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH


BAB I PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang 

Salah satu tantangan terberat bagi dunia pendidikan di Indonesia pada era globalisasi adalah menyiapkan manusia Indonesia yang cerdas, jujur, unggul, berkarakter, berdaya saing, dan memiliki spirit nasionalisme kebangsaan. Pemerintah secara terus-menerus mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi manajemen pendidikan. Usaha yang dilakukan pemerintah dalam upaya menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global khususnya menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Program strategis pembaharuan dalam bidang pendidikan dilakukan pada semua jenjang pendidikan baik itu pendidikan tingkat dasar maupun tingkat menengah. Guru dan tenaga kependidikan berperan dalam melaksanakan program strategis dalam peningkatan mutu pendidikan. Kepala sekolah sebagai salah satu unsur tenaga kependidikan memiliki peran melaksanakan pembinaan di bidang akademik dan bidang manajerial. Secara umum tugas kepala sekolah melakukan pembinaan terhadap kemampuan profesional guru, tenaga administrasi sekolah, dan kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah. Pasal 40 Ayat (2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban memberikan teladan dan menjaga baik lembaga, profesi, dan kedudukan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah mendorong kepala sekolah agar memiliki kompetensi dan mampu menunjukkan kinerja terbaik dalam memimpin sekolahnya. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, kompetensi kepala sekolah mencakup: 1) kepribadian; 2) manajerial; 3) kewirausahaan; 4) supervisi; dan 5) sosial.

Mengingat fungsi strategis dari tenaga kependidikan yang ada di sekolah, dan dalam rangka memberikan layanan dukungan dalam pembelajaran di sekolah, maka masingmasing kepala sekolah senantiasa berusaha untuk melakukan pengalaman terbaik (Best Practice) sesuai dengan kompetensi dimiliki dan yang mungkin dikembangkan, sehingga benar-benar nyata tercermin dalam kinerjanya. Tentu saja kinerja atau pengalaman terbaik yang ditampilkan oleh kepala sekolah masih relatif bervariasi. Atas dasar itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan apresiasi atau penghargaan kepada kepala sekolah yang mampu menunjukkan pengalaman terbaik dalam melakukan pembinaan sekolah yang menjadi tanggungjawabnya. Program ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan Indonesia pintar, terampil, dan berkarakter.

B. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; 

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan; 

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 

5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; 

6. Peraturan Pemerintah Nomor 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebgaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 tetang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; 

7. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru; 

8. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan; 

9. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 

10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala SMA/Madrasah; 

11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2009 yang diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Kepala Satuan Pendidikan; 

12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah; 

13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 

14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2016 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan 2016-2019. 

C. Tujuan 

Pedoman Lomba Penulisan Best Practice Bagi Kepala Sekolah/Madrasah Tahun 2016 diterbitkan sebagai acuan dalam melaksanakan Lomba Penulisan Best Practice Bagi Kepala Sekolah/Madrasah Tingkat Nasional, sehingga Lomba Penulisan Best Practice Bagi Kepala Sekolah/Madrasah berjalan dengan transparan, terukur, dan akuntabel. 

D. Ruang Lingkup 

Pedoman lomba Penulisan Best Practice meliputi pengertian, tujuan, manfaat, prinsip, persyaratan, mekanisme, aspek yang dinilai dan prosedur penilaian, dan penghargaan. 


BAB II PENYELENGGARAAN LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE 

A. Pengertian Best Practice 

Istilah best practice mengandung arti “pengalaman terbaik” dari keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam mengatasi berbagai masalah dalam lingkungan tertentu. Best Practice Kepala Sekolah/Madrasah adalah pengalaman terbaik yang dimiliki kepala Sekolah/Madrasah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai kepala sekolah. Kepala sekolah/madrasah harus memiliki kompetensi: (a) kepribadian; (b) manajerial; (c) kewirausahaan; (d) supervisi; dan (e) sosial. 

Wujud Best Practice kepala sekolah/madrasah adalah laporan tentang pengalaman terbaik dalam keberhasilan pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan tupoksi sebagai kepala sekolah. Suatu pengalaman dapat dikategorikan sebagai best practice karena memiliki pertanda khas sebagai berikut: 

1. mampu mengembangkan cara baru dan inovatif dalam mengatasi suatu masalah dalam pendidikan khususnya pembelajaran; 

2. mampu memberikan sebuah perubahan atau perbedaan sehingga sering dikatakan hasilnya luar biasa (outstanding result); 

3. mampu mengatasi persoalan tertentu secara berkelanjutan (keberhasilan lestari atau berlangsung lama) atau dampak dan manfaatnya berkelanjutan (tidak sesaat); 

4. mampu menjadi model dan memberi inspirasi dalam membuat kebijakan (pejabat) serta inspiratif perorangan, termasuk murid; 

5. cara dan metode yang digunakan bersifat ekonomis dan efisien. 


B. Karakteristik Laporan 

1. Orisinalitas; topik dan bahasan merupakan ide yang memuat keaslian maupun kreativitas dengan memadukan sejumlah gagasan maupun ide-ide baru tanpa mengurangi keaslian sumber utamanya. 

2. Inovatif; hasil yang dicapai memuat ide kebaruan atau novelty, bukan jiplakan atau peniruan apa adanya, dan berkaitan dengan peningkatan kualitas kinerja kepala sekolah yang lebih terampil, elegan, dan bermakna. 

3. Elaboratif; kepiawaian seseorang dalam menguraikan, merinci, menghubungkan suatu konsep/data satu dengan lainnya sehingga menghasilkan gagasan/karya baru yang lebih kompleks tetapi terurai. 

4. Inspiratif; memberikan dorongan dan motivasi maupun spirit dalam melaksanakan tugas pangawas sekolah bagi orang lain. 

5. Empirik; menunjukkan bukti nyata kinerja berbasis pengalaman, dalam supervisi managerial maupun akademik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 

6. Aplikatif; hasil best practice dapat direflikasi, dimanfaatkan, dan atau dikembangkan baik di sekolah sendiri maupun di sekolah lain. 


C. Tujuan Lomba Lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tujuan sebagai berikut: 

1. meningkatkan motivasi secara berkelanjutan di kalangan Kepala Sekolah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah untuk terus “belajar dan bekerja lebih cerdas” dalam menciptakan kinerja yang lebih produktif; 

2. mendorong inovasi dan kreativitas Kepala Sekolah Pendidikan Dasar dan Menengah dalam menciptakan model-model supervisi terbaik baik akademik maupun manajerial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah; 

3. menumbuhkan kebanggaan di kalangan Kepala Sekolah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah terhadap profesinya; 

4. mendiseminasikan pengalaman terbaik Kepala Sekolah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dalam melaksanakan tugasnya;

5. memberikan penghargaan dan pengakuan kepada Kepala Sekolah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah yang secara nyata berprestasi dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah termasuk kegiatan pendukung yang hasilnya dapat bermanfaaat bagi peningkatan kualitas pendidikan.


D. Manfaat 

Lomba Penulisan Best Practice kepala sekolah pendidikan dasar dan menengah tahun 2016 adalah sebagai berikut: 

1. mendorong program peningkatan kualitas layanan pendidikan dasar dan menengah; 

2. meningkat kualitas guru, dan tenaga kependidikan di wilayah provinsi/kabupaten/ kota; 

3. meningkatkan kompetensi kepala dalam dimensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan dimensi sosial; 

4. meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, serta kompetensi guru dan kepala sekolah. 

E. Prinsip-Prinsip 

Lomba Lomba Penulisan Best Practice bagi Kepala Sekolah/Madrasah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut: 

1. Individual; setiap Kepala Sekolah/Madrasah jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah yang memenuhi persyaratan berhak mengikuti lomba ini dan mengirimkan Best Practice dan persyaratan lain secara langsung ke alamat Panitia Penyelenggara. 

2. Kompetitif; berdasarkan persaingan sehat pengalaman terbaik kepala sekolah yang direpresentasikan dalam bentuk laporan Best Practice. 

3. Objektif; mengacu kepada proses penilaian dan penetapan predikat Best Practice terbaik pada tingkat nasional dilaksanakan secara impartial, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar penilaian yang ditetapkan. 

4. Transparan; mengacu kepada proses yang memberikan peluang kepada semua pemangku kepentingan untuk memperoleh akses informasi tentang penilaian dan penetapan predikat Best Practice terbaik pada tingkat nasional pada semua tingkatan, sebagai suatu sistem yang meliputi masukan, proses, dan hasil penilaian. 

5. Akuntabel; merupakan proses penilaian dan penetapan predikat Best Practice terbaik pada tingkat nasional yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pemangku kepentingan pendidikan, baik secara akademik maupun administratif. 

F. Persyaratan Peserta 

1. Kepala sekolah/madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang masih aktif.

2. Memiliki kualifikasi akademik minimal Diploma IV (D-IV) atau Sarjana (S1). 

3. Memiliki sertifikat pendidik. 

4. Karya best practice belum pernah di ikutkan dalam lomba ataupun pemilihan berprestasi. 

5. Memiliki pengalaman kerja sebagai Kepala sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut, dibuktikan dengan keputusan pengangkatan sebagai kepala sekolah oleh yang berwenang. 

6. Tidak pernah menerima hukuman dengan sanksi sedang atau berat. 

7. Tidak sedang dalam proses alih tugas ke jabatan lain, seperti jabatan administratif, struktural atau tugas lainnya. 

8. Belum pernah menjadi juara lomba Penulisan best practice tingkat nasional sejenis.


G. Kelengkapan Dokumen yang harus dipenuhi : 

1. Biodata 

2. NUPTK 

3. Hasil Scan ijasah Sarjana (S1) atau Diploma Empat (D-IV) 

4. Hasil Scan Sertifikat Pendidik 

5. Hasil Scan Surat Keterangan Melaksanakan Tugas dari Atasan 

6. Hasil Scan Surat keterangan dokter yang menyetakan sehat jasmani dan rohani 

7. Hasil Scan Surat Pernyataan belum pernah menjadi juara 1, 2, atau 3 Lomba sejenis dan/atau Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional 

8. Hasil Scan Surat Pernyataan yang menyatakan bahwa: 

a) Best Practice dibuat sendiri dan tidak menyalin atau menjiplak karya orang lain. 

b) Dilaksanakan pada dua tahun terakhir 

c) Belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis baik tingkat nasional maupun internasional. 

9. Hasil Scan Pengesahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota 

10. File Laporan tertulis Best Practice H. Isi Best Practice Laporan Best Practice yang disusun dan ditulis oleh kepala sekolah/madrasah sebagai peserta lomba harus berisi tentang hal-hal sebagai berikut. 

    1. Bagian Awal Bagian ini terdiri atas halaman judul, halaman pernyataan keaslian naskah lomba             bermaterai cukup, halaman lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, kata         pengantar, abstrak atau ringkasan, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

     2. Bagian Isi Bagian ini berisi paparan tentang hal-hal sebagai berikut: 

        a. Pendahuluan, berisi paparan latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat Best Practice yang                 dilaporkan. 

        b. Metode Pemecahan Masalah, berisi paparan teori atau pengalaman yang dijadikan rujukan                     dalam   menyelesaikan masalah, dan metode atau cara yang digunakan untuk menyelesaikan                 masalah   beserta langkah-langkah rinci dari metode atau cara tersebut. 

        c. Pelaksanaan dan Hasil yang dicapai, berisi tentang paparan tentang pelaksanaan Best Practice                 terkait tempat, waktu, dan perangkat atau instrumen yang digunakan ketika Best Practice                     dilakukan serta hasil yang diperoleh dari pelaksanaan pemecahan masalah yang telah dilakukan             disertai dengan data dan informasi yang mendukung. 

    3. Bagian Akhir Bagian ini berisi tentang simpulan, refleksi dan rekomendasi. 

    4. Daftar pustaka dan lampiran-lampiran 

I. Teknik Penulisan dan Penyusunan Naskah Laporan 

    1. Penulisan naskah Best practice harus menggunakan sistematika penulisan sebagaimana tertera             pada lampiran pedoman ini. 

    2. Jumlah halaman naskah berkisar antara 20-40 halaman tidak termasuk lampiran, dengan kertas             berukuran A4. 

    3. Isi laporan dengan proporsi: pendahuluan (3-6 halaman), isi (15-30 halaman), dan penutup (2-4             halaman). 

    4. Naskah diketik dengan spasi 1,5, huruf Time New Roman ukuran huruf 12, batas tepi/margin kiri         3 cm, kanan 2,5 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm. Khusus untuk ukuran huruf tabel dan gambar             disesuaikan dengan kebutuhan. 

    5. Di bagian kanan atas Cover Naskah untuk masing-masing jenjang diberi kode: 

        a. BPKS-SD untuk kepala SD 

        b. BPKS-SMP untuk kepala SMP 

        c. BPKS-SMA untuk kepala SMA 

        d. BPKS-SMK untuk kepala SMK


J. Kelengkapan Naskah Lomba dan Pengirimannya 

    1. Naskah lomba dikirimkan dalam bentuk softcopy dalam Flash Disk yang berisi naskah utuh dalam         format MicrosoftWords dan format Microsoft Power Point untuk bahan presentasi. 

    2. Batas akhir pengiriman naskah lomba 31 Oktober 2016 diterima di Direktorat Pembinaan Tenaga         Kependidikan Dikdasmen. 

    3. File Naskah lomba dan kelengkapannya direkam dalam Flash Disk dan dikirimkan ke alamat                 berikut ini. 

PANITIA LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE KEPALA SEKOLAH/ MADRASAH PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

 Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Up. Kepala Subdit Kesharlindung Gedung D Lt. 14 Kemendikbud Jalan Pintu 1, Senayan, Jakarta 10270 Telepon (021) 57974125 

Atau File dapat dikirim melalui surel ke alamat 

Tendikharlindung@gmail.com dengan judul/Subject : 

LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE 2016

 Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi narahubung : 

1. Waadarrahman di nomor telp 087788555510/081210220484 

2. Adi Widarto di nomor telp 082112822277

 File Pedoman dapat diunduh di WWW.KEMDIKBUD.GO.ID


BAB III PROSEDUR PENILAIAN DAN PENGHARGAAN 

A. Prosedur Penilaian Penilaian lomba penulisan Best Practice dilakukan dengan tahapan sebagai             berikut. 


Test Similarity Best Practice < 40 %----Penilaian Administrasi oleh Panitia---Penilaian Esensi Best Practice oleh Tim Juri---Presentasi, wawancara, dan Verifikasi Best Practice oleh Tim Juri

Naskah layak secara administrasi ----Naskah layak untuk menjadi nominator (10 nominator untuk setiap jenjang pendidikan) ----Dipilih 3 terbaik untuk masing-masing jenjang pendidikan 


Gambar 1. Mekanisme penilaian Lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah Tingkat Nasional Tahun 2016


1. Test Similariy Best Practic

 Penilaian lomba penulisan Best Practice, diawali dengan test similarity tulisan best practice itu sendiri dengan cara membandingkan tulisan best practice terseut dengan tulisan karya ilmiah terdahulu yang sudah ada, apabila hasilnya menunjukan < 40% penilaian akan dilanjutkan ke tahap berikut, tetapi jika hasil similarity menunjukan hasil > 40% maka penilaian atas best practice tidak dilanjutkan. 

2. Penilaan Administrasi Penilaian ini difokuskan pada aspek administrasi dan dokumen, meliputi masa kerja, kualifikasi akademik, sertifikat pendidik, dokumen naskah best practice, dan kesesuaian format dan kelengkapannya (pernyataan keaslian naskah lomba bermaterai cukup, lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, kata pengantar, abstrak dan atau ringkasan, daftar isi, bab pendahuluan, bab cara mengatasi masalah, bab hasil yang dicapai, simpulan dan saran, daftar pustaka, dan 

lampiran). Kelengkapan administrasi dikirimkan dalam bentuk file hasil scan dengan format PDF. 3. Penilaian Esensi Best Practice Penilaian laporan Best Practice untuk menetapkan nominator, dan juara didasarkan pada OPIK (Orisinalitas, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten) untuk setiap karya inovatif yang dikirimkan. Orisinalitas, karya inovatif yang dibuat benar-benar merupakan karya asli penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun dengan niat dan prosedur yang tidak jujur. Laporan karya inovatif yang tidak orisinil antara lain ditandai oleh: 

 adanya bagian-bagian tulisan yang dirubah di sana-sini, bentuk ketikan yang tidak sama, tempelan nama, terdapat petunjuk adanya lokasi dan subyek yang tidak konsisten, terdapat tanggal pembuatan yang tidak sesuai, terdapat berbagai data yang tidak konsisten, tidak akurat; 

 waktu pelaksanaan kegiatan yang kurang wajar; 

 adanya kesamaan isi, data dan hal lain yang sangat mencolok dengan laporan orang lain; dan 

 tidak adanya lampiran dokumen-dokumen kegiatan yang dapat memberikan bukti bahwa kegiatan itu telah dilaksanakan. Perlu, hal yang dilaporkan atau gagasan yang dituliskan, harus sesuatu yang diperlukan dan mempunyai manfaat dalam menunjang pengembangan keprofesian dari guru, kepala sekolah, dan kepala pada jenjang sekolah dasar yang bersangkutan. Manfaat tersebut diutamakan untuk memperbaiki mutu pembelajaran di satuan pendidikan guru bersangkutan. 

Karya Inovasi yang tidak Perlu antara lain ditandai oleh: (1) masalah yang dikaji terlalu luas, dan 

(2) tidak langsung berhubungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan upaya pengembangan profesi dari guru yang bersangkutan. Ilmiah, laporan disajikan dengan memakai kerangka isi dan mempunyai kebenaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran ilmiah dan mengkuti kerangka isi yang telah ditetapkan. Laporan Karya Inovasi yang tidak Ilmiah antara lain ditandai dengan adanya


 latar belakang masalah yang tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya; 

 kebenaran yang tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya; 

 kesimpulan yang tidak/belum menjawab permasalahan yang diajukan. Konsisten, isi Karya Inovasi harus sesuai dengan tugas dan fungsi penyusunnya. Bila penulisnya seorang guru, maka isi laporan haruslah berada pada bidang tugas guru yang bersangkutan, dan memasalahkan tentang tugas pembelajaran yang sesuai dengan tugasnya di sekolah. 

Laporan Best Practice dikirimkan dalam format Microsoft Word dan format Microsoft Power Point untuk bahan presentasi. Kriteria, indikator dan bobot penilaian Best Practice disajikan pada tabel berikut: Tabel 1. Penilaian Esensi Best Practice Kepala Sekolah NO KRITERIA INDIKATOR Bobot (B) 1. Orisinalitas*) 

    1. Hasil Identifikasi Masalah Best Practice 

    2. Hasil Kajian Pemecahan Masalah Best Practice 

    3. Desain Best Practice 

    4. Indikator Keberhasilan Best Practice 

    5. Produk/Hasil Best Practice 

    6. Data penggunaan hasil Best Practice di sekolah 30 2. Perlu*) 

        1. Relevansi dengan masalah best practice 

        2. Mudah diterapkan/aplikasikan 

        3. Sesuai dengan kebijakan 

        4. Mampu meningkatkan kinerja guru 

        5. Mudah diadopsi/didesiminasi/ diadaptasi. 

        6. Berdampak pada meningkatkan mutu pembelajaran/sekolah 30


NO KRITERIA INDIKATOR Bobot (B) 3. Ilmiah**) 

1. Merujuk pada prinsip-prinsip best practice 

2. Menggambarkan data sebelum dan sesudah best practice 

3. Menyajikan langkah-langkah pengembangan best practice 

4. Dilaporkan sesuai dengan tata tulis best practice 20 4. Konsisten*) 

    1. Sesuai dengan tufoksi kepala skolah 

    2. Konsistensi isi laporan 

    3. Estetika (kemenarikan dan kejelasan) best practice 

    4. Sesuai dengan karakteristik kepala sekolah/sekolah 20 Jumlah : 100


4. Penilaian Presentasi, Wawancara dan Verifikasi Best Practice Penilaian presentasi, wawancara, dan verifikasi akan dilakukan di Jakarta atas biaya DIPA Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen. Aspek dan kriteria penilaian dalam presentasi Best Practice kepala sekolah disajikan pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Aspek dan Kriteria Penilaian Presentasi, Wawancara, dan Verifikasi 

ASPEK KRITERIA PENILAIAN A. PEMAPARAN

     1. Kejelasan paparan (penguasaan materi paparan) 

    2. Kemenarikan pemaparan 

    3. Pengelolaan waktu presentasi 

    4. Kualitas karya Best Practice 

    5. Kualitas jawaban 

B. MATERI BAHASAN 

    6. Keaktualan isu yang diangkat 

    7. Sistematika materi sajian (keruntutan pemaparan) 

    8. Dukungan data empiris 

    9. Dukungan teori (keterlibatan teori yang relevan) 

    10. Kekomprehensifan materi paparan 

    11. Kesesuaian presentasi dengan laporan 

ASPEK KRITERIA PENILAIAN 

C. SIKAP DALAM PRESENTASI 

12. Keterbukaan terhadap pendapat orang lain 

13. Kepercayaan diri 

14. Kewajaran 

15. Kesantunan merespon tanggapan/pertanyaan 

16. Penggunaan bahasa lisan 

D. BAHAN SAJIAN 

17. Kejelasan isi presentasi 

18. Layout tipografi 

19. Sistematika/organisasi bahan sajian 

20. Ilustrasi 

5. Penetapan Pemenang dan Penghargaan 

a. Nilai akhir lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah/Madrasah untuk setiap peserta merupakan nilai akumulasi dari hasil penilaian naskah dan presentasi Best Practice dengan formula: Nilai Akhir = 40% Naskah + 60% Presentasi 

b. Pemenang I, II, dan III ditentukan berdasarkan Nilai Akhir dengan mempertimbangkan similaritas Best Practice sebagai berikut. SIMILARITY (%) KETENTUAN < 20 Berhak menjadi juara I, II, dan III 20-40 Hanya berhak menjadi juara II dan III >40 Tidak berhak menjadi juara 

c. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Keputusan dan/atau Piagam Penghargaan bagi Kepala SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK yang menjadi Pemenang I, II, III Lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah/Madrasah tahun 2016. 

d. Selain Piagam Penghargaan, Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan dasar dan Menengah memberikan penghargaan dalam bentuk 


B. Tim Penilai Tim penilai terdiri atas unsur dosen, widyaiswara, dan praktisi pendidikan yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen, Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


BAB IV PENUTUP

 Lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah merupakan wujud nyata perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional. Melalui lomba tersebut, pemerintah memberikan apresiasi untuk memotivasi kepala sekolah meningkatkan profesionalisme. Perbaikan terhadap pelaksanaan lomba selalu dilakukan berdasarkan hasil evaluasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan lomba Penulisan Best Practice Kepala Sekolah Tingkat Nasional sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dan tepat sasaran. 

 

Rabu, 04 November 2020

Tips Menulis dan Menerbitkan Buku "Ala Mas Edi"



Malam ini saya mendapat Ilmu menulis dari narasumber hebat yaitu Mas Edi S.Mulyanta. Beliau adalah Manajer Operasional Penerbit Andi.Menyambung materi-materi pembicara sebelumnya, Mas Edi berbagi pengalaman hampir 20 tahun mengelola penerbitan


Tugas Beliau adalah mengamati trend konten buku yang tersebar di pasar, kemudian memberikan resume tema apa yang sedang menarik pasar pada saat itu.Kemudian beliau petakan pesaing, dan target penulis yang menjadi sasaran. Setelah resume di temukan, langkah selanjutnya adalah mencari prospek penulis yang mempunyai kemampuan seperti trend yang sedang kita pelajari.


Menurut Mas Edi terkadang memang calon penulis justru mempunyai insting yang lebih tajam dari penerbit, sehingga sering terjadi penerbit tertinggal informasi dibandingkan dengan penulis.Penulis menguasai konten, sedangkan penerbit menguasai data pemasaran. Langkah yang dilakukan adalah melakukan link and match antara data history dan data trend ke depan.


Hal inilah yang menarik, karena penerbit belajar dari data-data histori pemasaran sedangkan penulis terkadang telah melangkah lebih jauh dengan prediksi yang mungkin telah dipelajari sebelumnya.
Inilah pentingnya komunikasi yang harus dijalan antara calon penulis dengan calon penerbitnya, karena keduanya terkadang dalam cara pandang yang berlainan.


Selanjutnya,Penulis lebih ke konten yang dikuasai, sedangkan penerbit lebih banyak bobot pemasarannya.Penulis memerlukan media untuk menyampaikan maksud dan tujuannya menerbitkan buku. Hal ini yang menjadi kunci keberhasilan untuk dapat masuk ke dunia penerbitan, yang memang disamping masalah pasar yang diperhitungkan, ada masalah idealisme yang dipegang oleh penerbit. Setiap penerbit mempunyai idealisme masing-masing, terkadang Penerbit secara alamiah akan tersegementasi dalam kemampuan menelaah materi dan cara menjualnya.



Menurut beliau,IKAPI pemainnya adalah penerbit dan percetakan murni mencari keuntungan, sedangkan APTI adalah tandingannya yang lebih mementingkan kualitas terbitan yang sesuai dengan keilmuan kampus lembaga pendidikan tinggi.Penerbit ini tergabung dalam organisasi yang diakui oleh pemerintah yaitu IKAPI (ikatan penerbit indonesia) dan APTI (asosiasi penerbit perguruan tinggi). Penerbit ini yang secara hukum diperbolehkan mengeluarkan ISBN di bawah Perpustakaan Nasional.



Penciri penerbit mayor dan minor semakin kentara dalam pemilihan kode nomor ISBN, unuk mempermudah skala produksi masing-masing penerbit. Dan hal ini digunakan oleh lembaga DIKTI untuk memberikan penilaian tersendiri terhadap penerbit tersebut.



Segementasi anggota IKAPI terjadi secara alamiah, hal ini diperlukan oleh calon penulis untuk dapat memutuskan ke mana calon tulisannya dapat dilabuhkan. Karena anggota IKAPI yang berjumlah 1000-an tentunya akan sulit diamati secara detail. Kuncinya untuk mempermudah hal tersebut seringkali calon penulis akhirnya membagi penerbit dalam istilah Penerbit Mayor dan Penerbit Minor. Hal ini semata untuk memudahkan saja dalam mengidentifikasi penerbit.



Mas Edi juga menjelaskan  sebagai calon penulis dapat melihat pula histori hasil terbitan masing-masing penerbit untuk dapat memutuskan kemana calon terbitannya ditawarkan ke penerbit.
Apabila mempunyai tulisan Fiksi, penerbit yang memang kuat di pasar buku Fiksi, sehingga bisa mengirimkan naskah ke sana, jangan keliru mengirimkan naskah ke penerbit yang lebih kuat di Non Fiksi.




Selanjutnya.Langkah mudah untuk pengenalan awal penawaran tulisan , adalah dengan membuat semacam proposal penawaran penerbitan buku terlebih dahulu. Proposal ini dapat di kirimkan ke e-mail penerbit penerbit yang menjadi sasaran .

1. Judul Utama Buku Bapak IBu
 Isi Proposal ini adalah meliputi:

2. Sub judul jika diperlukan (sub judul ini memberikan penciri tersendiri untuk mempermudah pencarian tema) Biasanya judul utama dapat sama dengan judul-judul yang ditulis oleh penulis lain, sub judul ini sebagai ciri khas dari tulisan seseorang.

3. Outline lengkap naskah, dalam bentuk Bab-bab dan sub bab yang jelas hirarkinya.

4. Target pasar sasaran tulisan , misalnya buku ini untuk Guru, Murid, atau Orang tua, atau tulisan umum semua lapisan masyarakat

5. Tulislah Curiicullum Vitae dalam bentuk narasi. Ini sangat penting untuk melihat kepakaran penulis di bidang apa, atau menonjol di bdang apa. Hal ini digunakan oleh bagian pemasaran untuk melihat besarnya potensi calon pembaca penulis tersebut.

Setelah lengkap ke-5 hal tersebut, akan lebih afdol lagi jika sekalian menyertakan satu bab sampel. Satu bab sampel ini akan ditelaah oleh bagian editorial, untuk melihat gaya penyampaian si penulis. Untuk melihat pemilihan kata (diksi) kalimat yang di pilih, serta gaya penyampaiannya.


Untuk tema-tema tertentu Gaya Penyampaian ini sangat diperlukan, untuk dapat menggaet pembaca. Setiap pembaca mempunyai kecenderungan menyukai gaya tertentu dari penulisnya. Misalnya penulis menggunakan kalimat-kalimat aktif akan lebih banyak disukai oleh pembacanya dibanding dengan kalimat-kalimat pasif.


Selanjutnya menurut Mas Edi,Sering kali Si Penulis tanpa sadar akan lebih banyak menggunakan kalimat pasif, karena saat kita skripsi, tesis, hingga disertasi 100 persen menggunakan kalimat pasif. Berbeda dengan gaya penyampaian di Buku yang lebih powerfull jika menggunakan kalimat aktif.


Setelah itu jangan sungkan-sungkan  kirimkan ke beberapa penerbit, supaya dibaca oleh editor atau redaktur penerbit.Rata-rata penerbit memperlakukan Proposal Penerbitan buku sudah selayaknya naskah atau bakal buku yang akan terbit. Sehingga akan melalui beberapa reviu, dari proposal yang di tawarkan.


Di dalam Undang-undang perbukuan, tahap ini talah dibuat aturannya, sehingga setiap penerbit memang telah terstantarisasi mengikuti perundangan dari pemerintah tentang Naskah dan Buku.



Tahap yang penting selanjutnya adalah tahap check plagiasi, yang dilakukan oleh editor bahasa. Tahap ini akan meneliti seberapa besar bapak ibu melakukan plagiasi terhadap tulisan lain. Cek plagiasi bisa dilakukan menggunakan aplikasi dan secara manual oleh editor-editor kami yang berpengalaman. Hasil dari cek plagiasi berupa laporan derajat plagiasi, yang sebenarnya secara detail dilakukan saat telah diterimanya naskah untuk diterbitkan.



Plagiasi ini meliputi teks dan gambar yang disadur tanpa memberikan sumber yang jelas.Jika terjadi plagiasi di batas ambang yang kita tentukan, naskah akan dikembalikan untuk dimohonkan dilakukan revisi.Sebaiknya  jika menulis naskah, selalu cantumkan sumbernya untuk naskah non fiksi. Sedangkan naskah fiksi, tidak diperlukan sumbernya.



Langkah akhir yang tidak kalah pentingnya, adalah membuat resume, abstract, atau calon sinopsi buku. Yang biasanya diletakkan di back cover buku. Sinopsis sebaiknya ditulis oleh penulisnya sendiri, jangan serahkan ke penerbit, karena penerbit biasanya tidak menguasai dengan detail materi.



Setelah buku dinyatakan diterima, jangan berhenti sampai di sini. Carilah endorsment-endorsement dari tokoh-tokoh yang dianggap mumpuni di bidangnya atau pejabat masyarakat yang dikenal, artis, dll yang mempunyai follower atau massa banyak. Hal ini lebih ke strategi pemasaran buku ke depannya.


Demikian materi yang di sampaikan Mas Edi semoga dapat memberikan pengayaan dalam menulis buku. 

Doa Pembuka Rezeki dan Terhindar Musibah

Doa Pembuka Rezeki dan Terhindar Musibah  🌿 Doa dari Al-Qur’an Doa Memohon Rezeki yang Luas dan Berkah 📖 QS. Al-Maidah: 114 "Allahumm...