Matahari bersinar malu-malu di Desa Lubuk Alai Kecamatan Sindang Beliti Ulu. Angin berhembus lembut, seakan membelai dedaunan yang menari pelan. Di sebuah rumah panggung yang sederhana, tangis bayi pecah, memenuhi ruangan kecil yang dipenuhi haru dan kebahagiaan.
Bayi itu lahir dari rahim seorang ibu yang penuh kasih sayang. Ia mungil, berkulit merah, dan matanya berkilau seperti bintang di langit malam. Sang kakek, seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang, menggendongnya dengan hati-hati. Tatapannya penuh arti, seakan ia sedang membaca takdir cucunya di langit yang luas.
"Anak ini akan menjadi lelaki besar," gumam sang kakek. Ia menamai bayi itu "Usman Maku Alam", sebuah nama yang sarat makna—Usman yang memangku alam. Semua orang mengangguk setuju. Nama itu terasa gagah, kuat, seolah bayi ini telah dipersiapkan untuk mengemban tugas besar di dunia.
Namun, dunia berkata lain.
Tangisan Tanpa Sebab
Hari-hari berlalu, bayi itu tumbuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sang bunda resah—Usman kecil sering menangis tanpa sebab. Siang, malam, pagi, senja—tangisnya tak kunjung reda. Seakan ada sesuatu yang menekan jiwanya, membebani pundak kecilnya dengan sesuatu yang tak terlihat.
Sang bunda tak tinggal diam. Dengan hati yang berat, ia berjalan jauh ke Desa Belitar. Di sana, tinggal seorang perempuan tua yang dikenal dengan nama Nenek Kat Ghan—seorang yang bijak dan memiliki kepekaan batin yang luar biasa.
Setelah menatap bayi itu lama, mata Nenek Kat Ghan menyipit. Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang, seakan alam ikut bicara.
"Anak ini tidak kuat memangku alam," ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa begitu berat. "Namanya terlalu besar untuk jiwanya yang masih kecil. Jika terus begini, ia akan selalu gelisah, hatinya akan terus bergejolak."
Sang bunda menahan napas. Hatinya bergetar.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Nek?" tanyanya dengan suara bergetar.
Nenek Kat Ghan menghela napas panjang. Dengan suara lembut namun penuh ketegasan, ia berkata, "Ubah namanya. Biarkan ia tetap menjadi Usman, tetapi beri ia tambahan cahaya. Beri ia keseimbangan. Namailah dia Usman Alamsyah—Usman yang bersahabat dengan alam, bukan memangkunya.”
Sang bunda mengangguk. Hari itu juga, nama Usman Maku Alam berubah menjadi Usman Alamsyah.
Ajaib. Sejak saat itu, tangisannya mereda. Ia tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih ceria.
Namun, nama panggilannya tetap melekat. Di desa, lidah-lidah kecil teman-temannya sulit menyebut namanya dengan jelas. "Mangkuk," begitu mereka memanggilnya. Namun, seiring waktu, panggilan itu berubah menjadi "U'k"—sebuah nama yang lebih akrab, lebih lembut, dan lebih mencerminkan dirinya yang sesungguhnya.
Takdir yang Menuntun
Usman kecil tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia suka berlari-lari di sekeliling Rumah, menantang angin yang berhembus kencang. Ia belajar dengan giat, tidak ingin mengecewakan SAng Bunda Karena sejak lahir sudah Yatim.
Tapi hidup bukan tanpa rintangan.
Di sekolah dasar, ia sering diejek karena panggilannya yang aneh. "U'k! U'k! Hahaha, namamu lucu sekali!" tawa teman-temannya sering terdengar.
Namun, ia tidak marah. Tidak pula membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, ia tersenyum dan berkata, "Lebih baik namaku lucu, tapi aku pintar. Dari pada namamu keren, tapi kau tidak bisa mengeja namamu sendiri."
Teman-temannya terdiam. Sejak saat itu, mereka tidak lagi mengejeknya. Mereka justru mulai menghormatinya.
Dan dari sana, takdirnya mulai terbentuk.
Terawangan Menjadi Pemimpin
Menurut Nenek Kat Ghan kelak Usman Alamsyah akan tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Namanya yang dulu dianggap aneh, kelak akan menjadi simbol kepercayaan. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, sabar, dan mampu memimpin.
Ia tidak lagi menangis tanpa sebab. Tidak lagi merasa terbebani oleh nama yang terlalu besar. Sebaliknya, ia menemukan kekuatan dalam dirinya—kekuatan untuk membawa perubahan, kekuatan untuk menginspirasi.
Hingga suatu hari nanti, ia akan menjadi pemimpin di tanah kelahirannya sendiri. Sebuah jabatan yang tidak ia cari, tetapi datang kepadanya sebagai takdir yang telah digariskan sejak ia lahir.
Kini, saat ia berdiri di depan masyarakat, ia melihat kembali masa kecilnya—tangisan tanpa sebab, perjalanan menuju Nenek Kat Ghan, nama yang diubah, dan panggilan "U'k" yang tetap melekat.
Ia tersenyum.
Sebab ia tahu, semuanya bukan kebetulan. Semua adalah bagian dari perjalanan menuju takdirnya.
Nama tidak hanya sekadar panggilan. Nama adalah doa. Dan nama, adalah awal dari sebuah cerita besar.