Jumat, 14 Maret 2025

NAMA YANG MENJADI TAKDIR


Matahari bersinar malu-malu di Desa Lubuk Alai Kecamatan Sindang Beliti Ulu. Angin berhembus lembut, seakan membelai dedaunan yang menari pelan. Di sebuah rumah panggung yang sederhana, tangis bayi pecah, memenuhi ruangan kecil yang dipenuhi haru dan kebahagiaan.

Bayi itu lahir dari rahim seorang ibu yang penuh kasih sayang. Ia mungil, berkulit merah, dan matanya berkilau seperti bintang di langit malam. Sang kakek, seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang, menggendongnya dengan hati-hati. Tatapannya penuh arti, seakan ia sedang membaca takdir cucunya di langit yang luas.

"Anak ini akan menjadi lelaki besar," gumam sang kakek. Ia menamai bayi itu "Usman Maku Alam", sebuah nama yang sarat makna—Usman yang memangku alam. Semua orang mengangguk setuju. Nama itu terasa gagah, kuat, seolah bayi ini telah dipersiapkan untuk mengemban tugas besar di dunia.

Namun, dunia berkata lain.

Tangisan Tanpa Sebab

Hari-hari berlalu, bayi itu tumbuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sang bunda resah—Usman kecil sering menangis tanpa sebab. Siang, malam, pagi, senja—tangisnya tak kunjung reda. Seakan ada sesuatu yang menekan jiwanya, membebani pundak kecilnya dengan sesuatu yang tak terlihat.

Sang bunda tak tinggal diam. Dengan hati yang berat, ia berjalan jauh ke Desa Belitar. Di sana, tinggal seorang perempuan tua yang dikenal dengan nama Nenek Kat Ghan—seorang yang bijak dan memiliki kepekaan batin yang luar biasa.

Setelah menatap bayi itu lama, mata Nenek Kat Ghan menyipit. Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang, seakan alam ikut bicara.

"Anak ini tidak kuat memangku alam," ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa begitu berat. "Namanya terlalu besar untuk jiwanya yang masih kecil. Jika terus begini, ia akan selalu gelisah, hatinya akan terus bergejolak."

Sang bunda menahan napas. Hatinya bergetar.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Nek?" tanyanya dengan suara bergetar.

Nenek Kat Ghan menghela napas panjang. Dengan suara lembut namun penuh ketegasan, ia berkata, "Ubah namanya. Biarkan ia tetap menjadi Usman, tetapi beri ia tambahan cahaya. Beri ia keseimbangan. Namailah dia Usman Alamsyah—Usman yang bersahabat dengan alam, bukan memangkunya.”

Sang bunda mengangguk. Hari itu juga, nama Usman Maku Alam berubah menjadi Usman Alamsyah.

Ajaib. Sejak saat itu, tangisannya mereda. Ia tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih ceria.

Namun, nama panggilannya tetap melekat. Di desa, lidah-lidah kecil teman-temannya sulit menyebut namanya dengan jelas. "Mangkuk," begitu mereka memanggilnya. Namun, seiring waktu, panggilan itu berubah menjadi "U'k"—sebuah nama yang lebih akrab, lebih lembut, dan lebih mencerminkan dirinya yang sesungguhnya.

Takdir yang Menuntun

Usman kecil tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia suka berlari-lari di sekeliling Rumah, menantang angin yang berhembus kencang. Ia belajar dengan giat, tidak ingin mengecewakan SAng Bunda Karena sejak lahir sudah Yatim.

Tapi hidup bukan tanpa rintangan.

Di sekolah dasar, ia sering diejek karena panggilannya yang aneh. "U'k! U'k! Hahaha, namamu lucu sekali!" tawa teman-temannya sering terdengar.

Namun, ia tidak marah. Tidak pula membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, ia tersenyum dan berkata, "Lebih baik namaku lucu, tapi aku pintar. Dari pada namamu keren, tapi kau tidak bisa mengeja namamu sendiri."

Teman-temannya terdiam. Sejak saat itu, mereka tidak lagi mengejeknya. Mereka justru mulai menghormatinya.

Dan dari sana, takdirnya mulai terbentuk.

Terawangan Menjadi Pemimpin

Menurut Nenek Kat Ghan kelak Usman Alamsyah akan tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Namanya yang dulu dianggap aneh, kelak akan menjadi simbol kepercayaan. Ia dikenal sebagai orang yang bijaksana, sabar, dan mampu memimpin.

Ia tidak lagi menangis tanpa sebab. Tidak lagi merasa terbebani oleh nama yang terlalu besar. Sebaliknya, ia menemukan kekuatan dalam dirinya—kekuatan untuk membawa perubahan, kekuatan untuk menginspirasi.

Hingga suatu hari nanti, ia akan menjadi pemimpin di tanah kelahirannya sendiri. Sebuah jabatan yang tidak ia cari, tetapi datang kepadanya sebagai takdir yang telah digariskan sejak ia lahir.

Kini, saat ia berdiri di depan masyarakat, ia melihat kembali masa kecilnya—tangisan tanpa sebab, perjalanan menuju Nenek Kat Ghan, nama yang diubah, dan panggilan "U'k" yang tetap melekat.

Ia tersenyum.

Sebab ia tahu, semuanya bukan kebetulan. Semua adalah bagian dari perjalanan menuju takdirnya.

Nama tidak hanya sekadar panggilan. Nama adalah doa. Dan nama, adalah awal dari sebuah cerita besar.

SALAH PAHAM DENGAN KATA KAYO

SALAH PAHAM DENGAN KATA KAYO

Di suatu pagi yang cerah di sebuah desa di Lembak Beliti, Uda Kun, seorang perantau asal Sumatra Barat, sedang duduk di depan rumah panggung sederhana yang ia tempati sementara. Baru seminggu ia merantau ke daerah ini untuk berdagang rendang dan makanan khas Minang lainnya. Namun, ia masih merasa asing dengan bahasa dan kebiasaan masyarakat setempat.

Tiba-tiba, datanglah Bedu, seorang pria asli Lembak Beliti, yang dikenal ramah tapi kadang suka ceplas-ceplos. Bedu datang dengan wajah serius, menggendong ember besar sambil membawa pancingan. Ia berhenti di depan rumah Uda Kun.

"Kun, ayo kayo!" seru Bedu lantang sambil melambaikan tangan.

Mendengar itu, Uda Kun langsung bangkit dari duduknya, menatap Bedu dengan kening berkerut. "Eh, apa maksud kau bilang aku kayo?" tanyanya dengan logat Minang yang kental.

"Iyo, kayo. Cepatlah siap-siap! Kita kayo sekarang!" jawab Bedu, lebih semangat lagi.

Uda Kun semakin bingung. Ia merasa Bedu sedang menyindirnya sebagai orang kaya. Dalam hati, ia berpikir, "Dari mana pula dia tahu aku orang kaya? Duitku saja pas-pasan buat dagang!" Namun, sebagai orang Minang, harga diri harus tetap dijaga.

"Eh, tunggu dulu, Bedu! Aku ini orang biasa, bukannya kayo! Kok kau suka-suka bilang aku kayo? Kau menghina, ya?!" balas Uda Kun dengan nada tinggi, sambil menunjuk Bedu.

Bedu malah bengong mendengar respons Uda Kun. "Hah? Menghina gimana, Kun? Aku cuma ngajak kayo! Kau ini marah-marah kenapa pula?"

Situasi mulai memanas. Bedu mulai emosi karena merasa niat baiknya disalahartikan.

"Kalau kau nggak mau kayo, bilang saja! Jangan pula kau buat ribut pagi-pagi begini!" teriak Bedu sambil menghentakkan embernya ke tanah.

"Aku bilang, aku bukan kayo! Kau itu yang sembarangan ngomong! Kalau aku kayo, sudah beli rumah besar di sini!" bentak Uda Kun, matanya melotot penuh amarah.

Saat perdebatan semakin seru, datanglah Murni, tetangga sebelah rumah yang juga kebetulan kenal baik dengan Bedu. Ia membawa sebakul jemuran sambil melongok ke arah mereka.

"Apa pula ribut-ribut ini pagi-pagi? Memalukan saja kalian!" seru Murni sambil mendekat.

"Ini, si Kun marah-marah karena aku ngajak kayo! Padahal aku cuma mau ngajaknya ke sungai," jelas Bedu dengan wajah merah karena kesal.

"Kau ini, Murni, dengar dia! Dia bilang aku kayo! Mana ada aku orang kaya!" tambah Uda Kun, masih dengan nada tinggi.

Murni langsung menahan tawa, tapi ia mencoba tetap serius karena kedua lelaki itu sudah seperti ayam siap sabung. "Astaga, kalian ini rupanya salah paham besar!"

Murni menghela napas panjang sebelum mulai menjelaskan. "Dengar baik-baik, Kun. Di sini, ‘kayo’ itu artinya pergi ke sungai. Bukan berarti kau orang kaya! Bedu cuma ngajak kau pergi ke sungai, bukan mau bilang kau hartawan!"

Uda Kun terdiam sejenak. Lalu, dengan muka merah padam, ia menatap Bedu. "Jadi... kayo di sini bukan kaya?" tanyanya, memastikan.

"Betul, Kun! Aku cuma mau ngajak kau cari ikan di sungai. Apa pula urusan aku ngomong kau orang kaya!" jawab Bedu dengan nada kesal, tapi lega.

Uda Kun merasa malu setengah mati. Ia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sambil tertawa kecil. "Ampun, Bedu. Rupanya aku salah tangkap! Hahaha! Kirain kau sedang nyindir aku!"

Bedu akhirnya ikut tertawa, meskipun masih sedikit sebal. "Hadeh, Kun, Kun... lain kali tanya dulu, jangan langsung marah! Dasar orang baru!"

Murni pun tak kuasa menahan tawa lebih lama. "Kalian ini bikin pagi-pagi jadi hiburan gratis saja. Sudahlah, ayo kayo sana! Tapi jangan berantem lagi, ya!"

Akhirnya, Uda Kun dan Bedu berangkat ke sungai bersama, sambil terus saling menggoda. Uda Kun bahkan tak henti-hentinya meminta maaf kepada Bedu.

Sejak kejadian itu, setiap kali Bedu mengajak Uda Kun kayo, mereka berdua pasti tertawa dulu mengingat kesalahpahaman yang konyol itu. Bahkan, cerita mereka jadi bahan lelucon di desa, membuat semua orang terhibur. 

Tamat 

(Hiburan)
😁😁😁🙏🙏🙏

LEGENDA ASAL-USUL DESA JABI (Sebuah Kisah tentang Pohon Keramat dan Para Leluhur Sakti)

LEGENDA ASAL-USUL DESA JABI 
(Sebuah Kisah tentang Pohon Keramat dan Para Leluhur Sakti)

Di jantung hutan belantara yang kini menjadi Desa Jabi, hiduplah sebuah pohon raksasa bernama Pohon Lebi/Jabi. Batangnya kokoh bagai tiang langit, akarnya mencengkeram bumi seperti naga tertidur, dan daunnya lebat hingga menutupi cahaya matahari. Pohon itu bukan sekadar pohon biasa. Konon, ia memiliki kesaktian dan menjadi penjaga keseimbangan alam.

Pertemuan Takdir di Bawah Pohon Lebi/Jabi

Pada suatu masa, hiduplah seorang leluhur sakti bernama Puyang Komes. Ia adalah pria gagah yang memiliki ilmu tinggi, dapat berbicara dengan alam, dan memiliki kemampuan mengendalikan angin serta hujan. Puyang Komes dikenal sebagai penjaga hutan, penakluk makhluk halus, dan pelindung manusia dari ancaman gaib.

Suatu hari, Puyang Komes berjalan di tepi sungai ketika mendengar bisikan halus dari angin. "Datanglah ke Pohon Lebi/Jabi, bahaya mengintai di sana," kata angin. Tanpa ragu, ia melangkah menuju pohon tersebut. Setibanya di sana, ia melihat tiga sosok asing berwujud bayangan hitam yang berusaha menebang Pohon Jabi.

"Kalian siapa? Berani menyentuh pohon keramat ini!" suara Puyang Komes bergema, membuat tanah bergetar.

Salah satu bayangan itu menjelma menjadi manusia berwajah bengis. "Kami adalah utusan dari seberang gunung. Pohon ini menghalangi kekuasaan kami!" katanya sambil menghunus tombak api.

Puyang Komes tak tinggal diam. Dengan sebatang rotan di tangannya, ia menghantam tanah, dan seketika akar-akar Pohon Lebi/ Jabi keluar dari dalam bumi, menggulung makhluk-makhluk hitam itu hingga mereka lenyap dalam pusaran tanah.

Kehadiran Para Leluhur Sakti

Berita tentang peristiwa ini sampai ke telinga Kelepah Agung Anom dari Desa Tanjung Heran. Ia adalah seorang petapa sakti yang dapat mengendalikan air. Bersama Moneng Takok dan Pangku Lurah dari Desa Pengambang, mereka datang untuk membantu Puyang Komes menjaga Pohon Jabi.

"Kami telah melihat pertanda buruk. Hutan ini harus kita lindungi," kata Kelepah Agung Anom.

Dengan kesaktian mereka, keempat leluhur sakti itu menciptakan perisai gaib yang menjaga Pohon Lebi/Jabi dari tangan-tangan serakah. Namun, mereka tahu bahwa tidak selamanya mereka bisa menjaga tempat itu. Maka, sebelum mereka menghilang ke alam gaib, mereka meninggalkan pesan kepada penduduk setempat:

"Rawatlah pohon ini, jadikanlah ia lambang desa kalian. Selama nama Lebi/Jabi tetap disebut, berkah akan mengalir di tanah ini."

Lahirnya Desa Lebi/Jabi

Sejak hari itu, desa di sekitar pohon tersebut dinamakan Desa Lebi/Jabi, sebagai penghormatan kepada pohon keramat dan leluhur sakti yang telah menjaganya. Hingga kini, penduduk masih mengenang kisah ini, dan di suatu tempat di desa, terdapat Keramat Puyang Komes, tempat yang diyakini sebagai petilasan terakhir sang leluhur sebelum ia lenyap ke alam gaib.

Setiap kali angin berhembus melewati desa, terdengar bisikan halus di antara dedaunan Pohon Lebi/Jabi. Mereka yang peka dapat mendengar pesan para leluhur:

"Selama kalian menjaga tanah ini dengan hati yang tulus, berkah tak akan pernah pergi dari Desa Jabi."

— Tamat —

(Jiwangwe)
😁😁😁🙏🙏🙏

LEGENDA ASAL-USUL DESA TANJUNG HERAN

LEGENDA ASAL-USUL DESA TANJUNG HERAN 

(Cerita Rakyat Kecamatan Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong)

Bab 1: Tanjung dan Ran yang Mengering

Dahulu kala, di antara aliran Sungai Beliti dan Sungai Kolok, terdapat sebuah tanah tinggi yang menjorok seperti semenanjung. Masyarakat menyebutnya Tanjung Ran Mipis, sebab dulunya tanah itu dialiri sungai yang kini mulai mengering. Di ujung pertemuan kedua sungai tersebut, terdapat sebuah lubuk yang dikenal sebagai Lubuk Hemete, tempat para leluhur sering mencari ikan dan mandi di airnya yang jernih.

Suatu ketika, seorang lelaki tua bernama Ki Puyang Gading berkelana ke tempat ini. Ia seorang tabib sakti yang bisa membaca tanda-tanda alam. Saat menginjakkan kaki di Tanjung Ran Mipis, ia terkejut melihat daratan tinggi yang dulu dialiri sungai kini telah mengering, menyisakan jejak aliran air yang samar.

"Heran aku, mengapa sungai ini bisa kering begini?" gumamnya.

Sejak saat itu, penduduk setempat mulai menyebut tempat tersebut Tanjung Heran, perpaduan dari kata "Tanjung" dan keheranan yang diucapkan Ki Puyang Gading. Nama itu melekat hingga turun-temurun, menjadi legenda yang dipercaya oleh warga.

Bab 2: Kutukan Cinta yang Terlarang

Di Desa Tanjung Heran, hiduplah seorang pemuda bernama Puyang Agung, yang terkenal gagah dan pemberani. Ia jatuh cinta pada seorang gadis cantik dari Desa Tanjung Agung bernama Siti Balai. Namun, cinta mereka ditentang oleh orang tua dan tetua desa karena adanya larangan turun-temurun bahwa warga Tanjung Heran tidak boleh menikah dengan warga Tanjung Agung dan juga Desa Ulak Tanding.

Namun, cinta mereka begitu kuat. Mereka memutuskan menikah secara diam-diam. Ketika hari pernikahan tiba, hantaran pengantin pria dibawa ke rumah mempelai wanita, termasuk seekor kerbau besar. Namun, saat tiba di rumah mempelai wanita, kejadian mengejutkan terjadi.

Kerbau itu tiba-tiba mengamuk! Ia menanduk kain kebaya merah yang dikenakan Siti Balai, membuatnya terlepas. Malu dan marah, Puyang Agung berlari ke bukit dan menghilang tanpa jejak. Beberapa warga berusaha mencarinya, tetapi yang mereka temukan hanyalah seekor kerbau yang diam membisu di puncak bukit, seolah berubah menjadi batu.

"Ini bukan kerbau biasa," gumam seorang tetua desa. "Ini adalah jelmaan Puyang Agung yang terkena kutukan!"

Sejak saat itu, bukit tempat kejadian itu dinamai Keramat Moneng Kerbau, sementara di dekatnya terdapat Keramat Kerbau Lewet dan Anjing Kumbang, tempat dipercayai roh-roh dari kisah tragis ini bersemayam.

Karena kejadian itu, warga percaya bahwa pernikahan antara warga Tanjung Heran dan Tanjung Agung, serta Tanjung Heran dan Ulak Tanding, akan membawa kesialan dan kegagalan dalam hidup. Kutukan itu masih dipercayai hingga kini.

Bab 3: Kelepah Agung Anom dan Dua Tanjung Heran

Bertahun-tahun setelah tragedi Puyang Agung dan Siti Balai, hiduplah seorang tokoh sakti bernama Kelepah Agung Anom. Ia dikenal sebagai pendekar kuat yang memiliki keris pusaka dan berjasa melindungi desa dari serangan musuh.

Ketika ajal menjemputnya, ia dimakamkan di Tanjung Heran, Kecamatan Sindang Beliti Ulu. Namun, suatu hari, seorang pemuda dari desa itu melakukan perjalanan ke sebuah desa bernama Tanjung Heran di Taba Penanjung Lembak 8. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Kelepah Agung Anom masih hidup dan bermain sepak bola bersama anak-anak muda!

"Bagaimana mungkin? Bukankah ia sudah meninggal?" tanyanya dalam hati.

Setelah ditelusuri, ternyata Kelepah Agung Anom memiliki kemampuan hidup kembali dengan usia yang lebih muda. Oleh karena itu, keberadaannya seolah ada di dua tempat sekaligus. Di Tanjung Heran Taba Penanjung Lembak 8, peninggalannya berupa baju besi perang, sementara di Tanjung Heran Kecamatan Sindang Beliti Ulu, peninggalannya adalah keris sakti.

Hingga kini, banyak yang percaya bahwa roh Kelepah Agung Anom masih menjaga kedua desa. Jika seseorang berniat buruk atau ingin mengganggu kedamaian desa, maka ia akan mendapat balasan yang setimpal.

Penutup: Warisan Leluhur yang Dijaga

Hingga saat ini, Desa Tanjung Heran tetap memegang erat adat dan legenda yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat percaya bahwa tanah mereka adalah tanah sakral, penuh sejarah dan misteri yang tak boleh dilanggar.

Legenda tentang kutukan pernikahan, keramat moneng kebau, dan dua kehidupan Kelepah Agung Anom menjadi bagian dari identitas desa, yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah ini akan merasakan keunikan sejarahnya, di mana kepercayaan dan kenyataan melebur menjadi satu, menciptakan kisah yang hidup di dalam hati penduduknya.

Selesai.

(Jiwangwe)
😁😁😁

Senin, 24 Februari 2025

ES BALON DAN MIMPI SEORANG ANAK KECIL

ES BALON DAN MIMPI SEORANG ANAK KECIL

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, seorang bocah bernama Usman Alamsyah tumbuh dengan semangat yang menyala-nyala. Sejak duduk di bangku kelas tiga SD, Usman bukan hanya bintang kelas karena kecerdasannya, tetapi juga anak yang penuh tanggung jawab.

Suatu hari, rumah kecilnya kedatangan benda ajaib—sebuah lemari es yang dibeli oleh sang bunda. Pada masa itu, memiliki lemari es adalah sesuatu yang langka di desanya. Mata Usman berbinar saat melihat bundanya mengeluarkan cetakan kecil berisi air berwarna-warni dari dalamnya. "Nak, kita akan berjualan es balon," ujar sang bunda sambil tersenyum penuh harap.

Es balon adalah sebutan bagi es yang dibekukan dalam kantong plastik kecil, diikat kencang, lalu disajikan dengan berbagai rasa buah. Bagi Usman, ini bukan sekadar es, melainkan peluang untuk membantu keluarganya dan memperoleh uang jajan sendiri.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Usman mengambil termos besar berisi es balon dan berangkat ke sekolah dengan dua tugas: belajar dan berjualan. Saat istirahat, ia berjalan dari satu teman ke teman lain, menawarkan es balon dengan senyum lebar. "Es... Es... Balon-balon!" serunya riang. Anak-anak pun berlomba-lomba membeli es buatannya.

Namun, perjuangan Usman tak berhenti di sekolah. Usai pulang, ia menelusuri jalan-jalan desa, berjalan kaki menembus terik matahari, menyusuri pematang sawah, hingga mencapai perbukitan yang dikenal sebagai Dusun Palembang Kecil di Desa Lubuk Alai. Di setiap gelangang judi sabung ayam, ia dengan berani menjajakan dagangannya di antara orang-orang dewasa yang asyik menonton ayam bertarung. Kadang-kadang, ia harus menunggu lama sampai seorang penjudi meliriknya dan membeli es. Namun, Usman tak pernah mengeluh.

Harga es balonnya hanya Rp100,- per bungkus, dan dari setiap es yang terjual, ia menyetor Rp50,- kepada bundanya. Jika 100 es laku terjual, ia berhasil mengumpulkan Rp5.000,- untuk jajan dan menabung sedikit demi sedikit.

Malam itu, saat ia duduk di depan rumah bersama bundanya, ia berkata lirih, "Bu, suatu hari nanti, aku ingin menjadi orang sukses, supaya kita tak perlu berjualan es lagi. Aku ingin membangun rumah besar untuk Ibu dan membeli lemari es yang lebih bagus."

Bunda Usman tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang. "Nak, kerja keras dan kejujuran akan membawamu ke tempat yang lebih baik. Ibu percaya, suatu hari nanti, kamu akan menggapai impianmu."

Usman menggenggam kata-kata itu erat-erat di dalam hatinya. Es balon mungkin hanya benda kecil yang meleleh dalam genggaman, tetapi usaha dan ketekunannya adalah fondasi kokoh bagi masa depannya. Dan dalam setiap langkah kecilnya, Usman tahu bahwa mimpinya semakin mendekat.

Minggu, 23 Februari 2025

JEJAK DUA SAUDARA DI KEBUN KOPI DAN JAHE PUTIH

JEJAK DUA SAUDARA DI KEBUN KOPI DAN JAHE PUTIH 


Di lereng perbukitan Lubuk Baung, di bawah langit yang biru menghampar luas, dua saudara, Usman Alamsyah dan Kakanda Nata Kusuma, menghabiskan masa kecil mereka di antara rimbunnya pohon kopi dan hamparan kebun jahe putih. Mereka adalah anak yatim yang tumbuh dalam pelukan kasih ibunda, seorang wanita kuat yang selalu mengajarkan mereka arti perjuangan.

Merumput di Kebun Kopi

Suatu hari, ibunda harus menghadiri undangan hajatan di dusun seberang. Usman dan Kakanda Nata Kusuma ditugaskan merumput di kebun kopi yang mereka kelola bersama. Matahari bersinar garang, menyapu dedaunan dengan kehangatan yang menyengat. Usman, yang masih kecil, merasa lelah dan hampir menyerah. Ia duduk di atas gundukan tanah, menyeka keringat yang bercucuran. “Aku tidak kuat lagi, Kakanda…” lirihnya.

Namun, Kakanda Nata Kusuma, dengan tatapan penuh keyakinan, berkata, “Kita tidak boleh menyerah, adikku. Lihatlah pohon-pohon kopi ini, mereka tetap tegak meski diterpa angin kencang dan hujan deras. Kita pun harus seperti mereka.”

Kata-kata itu bagaikan embun pagi di tengah dahaga. Usman kembali bangkit, menggenggam sabit kecilnya, dan bersama kakandanya, mereka merumput hingga selesai. Saat ibunda pulang, ia membawa oleh-oleh jodha basah, penganan dari hajatan yang selalu dinanti.Sore itu, mereka makan dengan penuh kebahagiaan, merasakan hasil dari kerja keras mereka.

Menjaga Kebun Jahe Putih

Saat Kakanda Nata Kusuma duduk di kelas 6 SD dan Usman baru menginjak kelas 1 SD, ibunda menanam jahe putih di sebidang tanah peninggalan ayah. Sayangnya, karena mereka anak yatim, tidak ada yang bisa menjaga kebun itu sepenuhnya. Beruntung, mereka memiliki tetangga kebun yang baik hati, Al Madani yang akrab disapa Bakcikda, dan Aden yang dipanggil Bakcil Mul.

Setiap malam, Usman dan Kakanda Nata Kusuma menginap di pondok kecil Bakcikda. Suasana malam di kebun begitu sunyi, hanya terdengar desiran angin dan nyanyian jangkrik yang bersahut-sahutan. Untuk melindungi jahe putih dari tangan-tangan jahil, mereka membawa senapan angin dan sebilah pedang.

Di tengah malam, mereka berdua berkeliling kebun, menajamkan pendengaran, mengawasi setiap sudut, memastikan tidak ada pencuri yang mengintai. Usman yang masih kecil berusaha tegar, meski kadang langkahnya gemetar di bawah bayang-bayang pohon yang meliuk seperti raksasa kelaparan. Namun, Kakanda Nata Kusuma selalu menggenggam tangannya erat, memberikan keberanian.

Setelah tiga jam berpatroli, mereka kembali ke pondok Bakcikda. Sambil menunggu pagi, mereka belajar mengaji di bawah lentera kecil yang berayun pelan diterpa angin. Suara Bakcikda membimbing mereka, setiap ayat suci mengalir menenangkan hati, seperti aliran sungai yang menyejukkan dahaga.

Hadiah dari Hasil Panen

Bulan demi bulan berlalu, dan akhirnya panen jahe putih tiba. Ibunda menyambut mereka dengan senyum sumringah, matanya berbinar melihat jahe tumbuh subur. Hasil panen dijual, dan sebagai hadiah, Usman dan Kakanda Nata Kusuma diberikan baju baru.

Saat mereka mengenakan baju itu, hati mereka dipenuhi rasa syukur. Itu bukan sekadar kain yang menutupi tubuh, tetapi simbol dari kerja keras, kebersamaan, dan kasih sayang. Mereka belajar bahwa dalam hidup, keberanian dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah langit yang masih sama, di tanah yang tetap subur, dua saudara itu telah mengukir kenangan, menanam keteguhan, dan memetik kebahagiaan. Sebuah pelajaran berharga yang akan mereka bawa selamanya dalam perjalanan hidup mereka.

PERJALANAN KECIL USMAN ALAMSYAH: Didikan Keras Sang Ibunda

PERJALANAN KECIL USMAN ALAMSYAH: Didikan Keras Sang Ibunda


Hidup adalah perjalanan yang penuh ujian, dan bagi Usman Alamsyah, ujian itu telah dimulai sejak ia masih sangat belia. Tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang tangguh, Iman Caya, Usman kecil merasakan kerasnya kehidupan sejak dini. Sang ibu, seorang wanita perkasa yang harus menghidupi dan membesarkan empat anak seorang diri di usia muda, membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat. Tidak ada keluhan, tidak ada kata menyerah. Hanya ada kerja keras dan keteguhan hati.

Ketika Usman Alamsyah memasuki bangku kelas 1 SD, dunia baginya tidak hanya sebatas sekolah dan bermain. Sejak pagi hingga siang, ia adalah seorang murid yang rajin, tetapi begitu lonceng sekolah berbunyi, ia menjelma menjadi seorang pekerja keras. Ibundanya tidak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Jika Usman menginginkan baju baru, ibunya hanya menunjuk ke kebun kopi. Itu adalah isyarat bahwa ia harus bekerja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Bersama kakak-kakaknya, Usman kecil menjalani musim panen kopi dengan penuh perjuangan. Setiap anak memiliki beban sesuai dengan kekuatannya. Ayunda Lamcaya membawa satu karung kecil, Kakanda Nata Kusuma satu di kurangi sedikit l, dan Usman sendiri menanggung satu karung tepung penuh biji kopi lalu memasuki dalam berunang.Selesai Panen Kopi l,lalu di jemur di atas Pelapon tempat penjemuran kopi supaya tidak repot saat hujan dan biji kopi lebih kebiruan, untuk memastikan hasil panennya siap dijual. Musim kopi bukan hanya tentang kerja keras, tetapi juga tentang kebersamaan dalam keluarga, berbagi tawa dan lelah di bawah langit senja yang perlahan berubah jingga.

Tak hanya kopi yang menjadi saksi ketangguhan Usman kecil. Suatu hari, ketika Ayunda Susilawati panen jahe, Usman ikut membantu dengan menjadi tenaga upahan, mengangkut jahe dari kebun. Keringat bercucuran di wajahnya yang masih belia, tetapi ia tak mengeluh. Setiap langkah yang ia ambil menuju rumah membawa satu arti: tanggung jawab.

Saat musim kedondong tiba, Usman tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan penuh semangat, ia membawa buah kedondong ke sekolah dan menjualnya kepada teman-temannya. Tidak ada rasa malu, tidak ada gengsi. Baginya, ini adalah bagian dari perjuangan hidup yang harus ia jalani. Dari hasil penjualan kedondong, ia bisa membantu ibunya dan mendapatkan sedikit uang untuk keperluan sekolah.

Di balik semua kerja keras itu, ada satu pelajaran berharga yang ditanamkan oleh sang ibunda: hidup tidak akan memberikan apa pun dengan cuma-cuma. Setiap tetes keringat, setiap usaha, akan membentuk karakter seseorang. Iman Caya bukan hanya seorang ibu, tetapi juga seorang guru kehidupan bagi anak-anaknya. Ia adalah perempuan yang ditempa keadaan, menjadi lebih kuat dari kebanyakan lelaki. Ketegasannya bukan tanpa alasan, melainkan demi masa depan anak-anaknya.

Usman Alamsyah kecil mungkin tidak memiliki kemewahan, tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih berharga: semangat pantang menyerah, didikan keras dari ibunda, dan pengalaman hidup yang menjadikannya sosok yang kuat. Perjalanannya sejak kecil membentuk dirinya hingga kini, seorang pemimpin yang memahami arti kerja keras dan perjuangan.

Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Bahwa di balik setiap keberhasilan, ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan keringat, air mata, dan doa. Karena hidup tidak akan memberi kemudahan, tetapi ia akan memberikan kesempatan bagi mereka yang mau berjuang.


NAMA YANG MENJADI TAKDIR

Matahari bersinar malu-malu di Desa Lubuk Alai Kecamatan Sindang Beliti Ulu. Angin berhembus lembut, seakan membelai dedaunan yang menari pe...